Sakula Budaya: Sesuatu yang Lebih di Sebangau Mulya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng

13 Views

Desa Sebangau Mulya terletak tidak jauh dari Laut Jawa. Seandainya jalan darat tidak bermasalah, perjalanan berkendaraan roda empat dari Palangka Raya ke Desa Sebangau Mulya memerlukan waktu kurang lebih lima jam. Tapi seperti diketahui umum, kerusakan lingkungan yang luar biasa, menyebabkan Kalteng, termasuk Kabupaten Pulau Pisau, pada musim kemarau merupakan rumah asap, sedangkan pada musim hujam menjadi saran air bah. Hari ini kitapun sulit mengetahui musim apa yang sedang berlangsung. Dikatakan musim hujan, tapi udara panas terik, disebut musim kemarau, terkadang hujan turun saban hari.

Jarak antara Desa Sebangau Permai dan Sebangau Mulya jika jalan normal, bisa dicapai dalam waktu 20 menit berkendaraan roda empat sekalipun permukaan jalan dipenuhi oleh lubang-lubang besar. Sedangkan bila hujan turun, apalagi jika lebar, bisa dipastikan kendaraan roda empat atau roda duapunsulit, bahkan tidak mungkin dilewati. Pilihan terakhir dan satu-satunya cara adalah menggunakan klotok melalui jalur Sungai Sebanyau.

Sekalipun sudah mengetahui kondisi jalan ke Desa Sebangau Mulya setelah hujan lebat tidak mungkin dilalui dengan kendaraan roda empat, tapi Wakil Bupati Pulang Pisau Ahmad Jayadikarta yang ditugaskan oleh Bupati  Pulang Pisau,  H. Ahmad Rifa`i untuk hadir dalam Pagelaran Sakula Budaya menggantikan diri beliau yang berhalangan datang, tetap saja berketetapan hati datang menggunakan klotok Sebangau.

Bahkan dikabarkan bahwa sesungguhnya Bupati H. Ahmad Rifa`i meminta istri beliau untuk turut hadir. Dari ketetapan hati wakil bupati dan niat bupati untuk mengirimkan sang isteri hadir, di sini kami melihat ada kelebihan bernilai telah diperlihatkan oleh bupati, wakil bupati serta para kepala dinas, c.q. Kadis Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Kabupaten Pulang Pisau, Andriani yang cepat tanggap. Sementara ada  pihak yang tak hadir dengan alasan tidak ada bujet.

Dari sikap dan tindakan nyata Bupati-Wakil Bupati dan Kadis-Kadis Kabupaten Pulang Pisau ini kami melihat adanya kemauan politik yang kuat untuk melakukan pemajuan kebudayaan mulai dari kabupaten yang mereka pimpin. Hal ini memungkinkan langkah pemajuan kebudayaan Kalteng dilakukan atau dimulai dari pinggir bisa terwujud.

Sikap dan tindakan nyata ini tidak hanya terbatas pada kehadiran mereka di acara pagelaran Sakula Budaya yang dilangsungkan di daerah perdesaan terpencil, tapi nampaknya akan berlanjut ke penyelenggaraan Dialog Budaya Uluh Kalteng – yang jika mampu diselenggarakan merupakan gebrakan strategis pertama dalam sejarah Kalteng kekinian. Sejak tahun 1957, masalah kebudayaan di provinsi ini nampak kurang diperhatikan.

Organisator Pemajuan Kebudayaan

Adanya kemauan politik, prakarsa, dari penyelenggara Negara, terutama dinas  terkait dalam upaya pemajuan kebudayaan, kami pandang akan berdampak besar dan memperlancar upaya pemajuan tersebut. Penyelenggara Negara, c.q. dinas terkait adalah organisator kebudayaan di daerahnya, dan akan lebih ideal lagi ketika organisator ini sekaligus pemikir. Seniman memerlukan organisator kebudayaan, sebab jarang didapat seniman sekaligus organisator.

Hal-hal ini kami lihat  termasuk sesuatu yang lebih di Pulang Pisau, c.q. Desa Sebangau Mulya dan Sakula Budaya-nya. Hal-hal yang memberi kemungkinan pada kabupaten ini untuk menjadi ujung tombak pemajuan kebudayaan Kalteng.

Dalam konteks pemajuan kebudayaan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan No. 5 Tahun 2017, Dinas Kebudayaan Kabupaten dan Dewan Kesenian Daerah Pulang Pisau akan menjadi teladan sekiranya dua badan ini mengambil Sakula Budaya sebagai program mereka. Jika hal demikian terjadi, kiranya pemajuan kebudayaan berkelanjutan akan lebih terjamin.

Pagelaran Sakula Budaya

Acara Pagelaran Sakula Budaya bukanlah acara besar, apalagi berlangsung di sebuah desa terpencil yang tak mudah dijangkau lantaran aksesibilitas yang menantang, dan kerusakan lingkungan yang sepertinya tiada henti di pulau raksasa Kalimantan ini. Sekalipun demikian, Bupati Pulang Pisau tetap saja bersikukuh menugaskan wakil bupati dan rombongannya untuk menghadiri acara yang sedikit banyak menggegerkan warga Desa Sebangau Mulya dan desa-desa tetangganya. Ruang kecil tenda-tenda di mana acara dilangsungkan dipenuhi oleh 250-an orang warga, jumlah yang sangat berarti untuk sebuah desa yang terpencil.

Secara umum, karena berbagai kesibukan utama sebagai bupati-wakil bupati, orang  pertama dan kedua di tingkat kabupaten ini bisa dipahami jika keduanya mempunyai sedikit kesempatan untuk berkunjung ke desa-desa terpencil yang jauh dan tidak gampang dijangkau. Hal jarang seperti ini justru dilakukan oleh Bupati-Wakil Bupati  Pulang Pisau,  H. Ahmad Rifa`i dan Ahmad Jayadikarta, di sela-sela kesibukan mereka.

Dalam percakapan kami dengan warga Desa Sebangau Permai, desa tetangga terdekat, Desa Sebangau Mulya, di mana kami pernah menyelenggarakan Sakula Budaya, warga desa masih sering bertutur tentang kedatangan isteri Edy Pratowo – sekarang Wakil Gubernur Kalteng —  ke desa mereka. Kedatangan isteri Edy sebagai Bupati Pulang Pisau waktu itu masih melekat di ingatan kolektif warga desa.

Kami merasa pasti, akan demikian juga halnya dengan kedatangan Wakil Bupati Ahmad Jayadikarta kali ini. Bagi Sakula Budaya, kedatangan wakil bupati yang ditugaskan oleh bupati ke acara sederhana di desa terpencil ini, hanya bisa diartikan sebagai dukungan politik dan konsepsional penyelenggara Negara Kabupaten Pulang Pisau terhadap penyelenggaraan dan pengembangan Sakula Budaya di daerah perdesaan.

Sekali lagi dukungan politik dan konsepsioal ini akan menjadi ideal pada saat, Sakula Budaya dengan tujuan seperti telah dikemukakan di atas sebelumnya, diangkat sebagai program pemerintah, c.q. Dewan Kesenian Daerah dan Dinas Kebudayaan.

Langkah demikian merupakan cara nyata untuk melakukan pemajuan Kebudayaan Uluh Kalteng Yang Beridentitas Kalteng sebagai pengejawantahan gagasan multi-kulturalisme alias Bhinneka Tunggal Ika secara tanggap di suatu daerah.

“Pagelaran seni ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan wadah untuk mengekspresikan diri, menghargai keberagaman budaya, serta menumbuhkan rasa percaya diri,” kata Ahmad Jayadikarta, sebagaimana dilansir Antara, Sabtu (29/03/2026).

Mewakili Bupati Pulang Pisau, Ahmad Rifa’i, ia berharap kegiatan tersebut mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus mencintai dan melestarikan budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Semua budaya secara esensial bersifat inklusif sehingga memajukan budaya lokal tidaklah berarti mengembangkan separatisme dan etnosentrisme. Dari segi budaya, menurut hemat kami, modernisasi adalah kemampuan generasi  menciptakan budaya tanggap melalui dua pemaduan yaitu pemaduan unsur-unsur positif dari khazanah budaya lokal dengan hal-hal baik dari luar yang berasal dari manapun.

Berangkat dari pandangan ini, maka keragaman merupakan rahmat dan menjadi modal penting dalam pemajuan kebudayaan. Agar keragaman budaya bisa betul-betul merupakan kekayaan dalam upaya melahirkan kebudayaan kekinian yang tanggap zaman, di sinilah perlunya Dialog Budaya Kalteng yang diikuti oleh semua etnik yang ada di Kalteng, salah satu cara menggalang hubungan harmoni  antar-etnik. Karena hakikatnya, etnik dan bangsa hanyalah perbatasan semu bagi kemanusiaan yang tunggal, tinggalan sejarah terutama sejarah politis karena itu patut diperhitungkan.

Sejak berdirinya Kalteng sebagai provinsi otonom pada tahun 1957, provinsi ini tidak pernah menaruh perhatian serius pada soal-soal kebudayaan. Barangkali, kehadiran Wakil Bupati Pulang Pisau, Ahmad Jayadikarta, dalam acara kecil di sebuah desa kecil terpencil, Desa Sebangau Mulya, adalah cara penyelenggara Negara untuk menyatakan kemauan politik sungguh-sungguh dan konsisten untuk melakukan pemajuan kebudayaan Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng dari pinggir.

Slogan Sakula Budaya di Desa Sebangau Permai dan Desa Sebangau Mulya adalah: Siapa Kita? Uluh Kalteng! Sakula Budaya? Maju Bersama!”. Mendengar anak-anak meneriakkan slogan ini dengan penuh semangat, Wakil Bupati Ahmad Jayadikarta langsung bereaksi: ”Bukan, bukan begitu, tapi: ”Siapa Kita? Uluh Sebangau Mulya! Siapa Kita? Uluh Pulang Pisau! Siapa Kita? Uluh Kalteng! Sakula Budaya? Maju Bersama!”.

Wakil Bupati lalu meminta anak-anak memekikkan slogan koreksiannya. Setelah berlatih beberapa  kali, slogan usulan wakil bupatipun terdengar berkumandang hingga ke langit desa. Secara konsepsional, usul wakil bupati ini patut direnungkan oleh penyelenggara Sakula Budaya selanjutnya, karena usulan tersebut menggarisbawahi arti penting identitas lokal.

Perpaduan 2 Metode

Acara ditutup dengan  manasai bersama – tari pergaulan Dayak yang pada zaman Pemerintahan Soekarno; oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Prijono, diangkat sebagai tari pergaulan nasioanal. Melalui manasai sekat-sekat antar-peserta sirna karena wakil bupati dan rombongan berbaur girang dengan warga desa.

Kehadiran wakil bupati sebagai wakil dari penyelenggara Negara, c.q. pihak eksekutif,  pada acara kecil di desa terpencil ini juga bisa dipahami sebagai awal dari pemaduan dua metode dalam pemberdayaan masyarakat, yaitu pemaduan antara metode top down dan metode bottom up. Pemaduan dua metode ini akan mempercepat proses dan maksimalisasi hasil. Lantas apa dasarnya? Tentu saja kesamaan konsep.

Hal inipun merupakan sesuatu yang lebih yang terdapat dalam kegiatan di Desa Sebangau Mulya. Apabila dalam hymne Pulang Pisau diingatkan ”Ėla Laya Mahaga Lėwu Manggatang Utus!”, salah satu cara konkretnya adalah penerapan dua metode tersebut, dan lebih konkret lagi Sakula Budaya, upaya membangun manusia! []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *