Liawandira: Menenun Masa Depan Dayak Iban dari Lauk Rugun, Ketemenggungan Jalai Lintang
Penulis: R. Giring | Foto: Dok. Liawandira | Editor: R. Giring
“Tamue” pembaca kali ini adalah seorang perempuan muda yang inspiratif asal Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dia adalah pemuda pelopor bidang Seni dan Kebudayaan pada 2025. Namanya adalah Liawandira.
Baca juga: https://kalimantanreview.com/dewi-penerus-tradisi-dayak-simpakng-yang-menginspirasi/
Puteri bungsu dari 3 bersaudara ini terampil menenun sidan dan memainkan sape. Dedikasinya dalam melestarikan seni budaya Dayak inilah yang membuatnya diundang ke Ubud, Bali untuk bermain sape dan demo menenun pada event budaya ikonik Ubud Artisan Market (UAM) dan Tradisi Textile pada April 2026 yang lalu.

Dalam event pameran bertajuk Art Studies Exhibition: Kisah-Kisah Dari Hulu Fragmen dari Ruang Hidup, yang digelar di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak, tanggal 17 – 19 Juli 2026, penulis bertemu dan berbincang dengan Liawandira, pemuda pelopor seni dan kebudayaan Dayak Iban, asal Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat, Ketemenggungan Jalai Lintang, Kapuas Hulu.
Di event tersebut, Lia diundang khusus oleh Inaya Kayan Indonesia untuk berbagi kisah dan pengalamannya bersama 13 seniman muda dari Kalimantan, Jawa Barat, Jakarta dan Bali, yang tinggal selama 4 hari di rumah Panjae Bukung, Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat. Di sanalah, para seniman muda bersama Inaya Kayan Indonesia, organisasi nirlaba yang didirikan di hulu Provinsi Kalimantan Utara belajar, mengamati, mendengar, dan mencatat tentang kehidupan Masyarakat Adat Dayak Iban. Dalam event tersebut, mereka mempresentasikan karya seninya.
Dalam event itu pula, Liawandira bukan sekadar hadir, tapi bersama dengan 13 seniman muda lainnya melakukan apa yang disebut art vocacy, yakni seni sebagai media advokasi perempuan adat, lingkungan, dan kebudayaan Dayak Iban di lanskap ekosistem Lauk Rugun khususnya, dan Ketemenggungan Jalai Lintang pada umumnya.
Semangat, pengalaman dan kisah hidup Liawandira menarik ditulis. Pepapah “Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina” bermakna bahwa belajar ilmu pengetahuan tanpa kenal lelah, meskipun harus menempuh perjalanan melintasi batas geografis yang sangat jauh dan menghadapi rintangan di berbagai belahan dunia.
Di situlah sisi uniknya. Bagi banyak orang, pendidikan sering dimaknai sebagai jalan untuk meninggalkan kampung halaman yang berlokasi di hulu, di pedalaman, di bukit dan di gunung demi mengejar masa depan di kota karena sistem pendidikan memang tersentral di perkotaan. Namun, bagi perempuan muda Iban berusia 22 tahun asal Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat, Kabupaten Kapuas Hulu ini, pendidikan justru menjadi jalan untuk kembali.
Bagi Lia, sapaan akrabnya, masa depan tidak harus dibangun dengan menjauh dari akar budaya, melainkan dengan menghidupkannya kembali dari tempat asalnya – di ekosistem kebudayaan Iban di Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat, Ketemenggungan Jalai Lintang.
Di tangan perempuan Dayak Iban, tenun bukan sekadar karya tekstil, melainkan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Setiap motif menyimpan ingatan kolektif, hubungan manusia dengan alam, serta nilai-nilai kehidupan yang menjadi identitas Masyarakat Adat Dayak Iban. Saat jemari perempuan Iban mulai merangkai benang demi benang, sesungguhnya ia sedang mewarisi sebuah peradaban.

