PMKRI Cabang Pontianak Komisariat IKIP PGRI Pontianak Libatkan Institut Dayakologi dalam Seminar Kebudayaan
Dia juga berharap seminar ini dapat memotivasi kaum muda agar semakin semangat untuk melestarikan budaya daerah dan bijak dalam memperkenalkannya ke publik.

Harapan Valena diperkuat Presidium Hubungan Perguruan Tinggi PMKRI Cabang Pontianak, Gregorius Julianto yang notabene panitia pengarah. Ia mengatakan, kaum muda memiliki peran strategis sebagai pelaku yang mengedukasi masyarakat agar berpikir kritis dalam menanggapi tantangan kebudayaan di era digital ini.
“Mahasiswa-mahasiswi sebagai kaum intelektual juga mengemban amanat melakukan kontrol sosial dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Oleh karena itu, kaum muda harus mengembangkan karakter budaya yang kuat dengan meningkatkan pemahaman nilai-nilai luhur budaya di era modern ini,” imbuh Greg.
“Balelet” bukan Tradisi, tapi Eksibisi
Seminar kebudayaan menghadirkan Direktur Institut Dayakologi, Krissusandi Gunui’ sebagai narasumber. Ia memaparkan materi berjudul “Regenerasi Budaya Dayak dalam Perspektif Intelektual Dayak”.
Menurutnya kebudayaan adalah salah satu hasil interaksi manusia dengan alamnya, penciptanya, sesama manusia dan leluhur. Inilah yang membuat kita punya harta tak ternilai, yang kita kenal dengan kebudayaan.
Ia juga mengatakan bahwa sumber identitas budaya Dayak adalah hutan, tanah, air. Salah satu bagian dari kebudayaan Dayak adalah seni dan tradisi, yang juga dihasilkan dari interaksi manusia dengan alam, Pencipta, dan relasinya dengan sesama serta leluhur.
Baca juga: https://kalimantanreview.com/lagi-institut-dayakologi-jadi-tempat-magang-praktik/2/
“Pertunjukkan “balelet” adalah kegiatan yang menggerakkan sejumlah orang tertentu. Di dalamnya terdapat unsur kekerasan, sehingga identik dengan penggunaan senjata tajam untuk tujuan mempertontokan kekebalan di hadapan orang ramai. Dalam budaya Dayak Kanayatn disebut “balelet” artinya sembelih atau praktik kekebalan. Dalam praktiknya, ditemukan banyak pergeseran, zaman dulu, umumnya itu dilakukan di tempat tertutup dan di hadapan orang-orang dalam skala terbatas. Akan tetapi kini justru dilakukan di tempat terbuka. Alih-alih kebanggaan, justru praktik ini menciptakan kesan menakutkan. Ini bukan tradisi, tapi eksibisi yaitu peragaan, atraksi atau tontonan,” jelas Gunui’.

Jangan Terlena
Gunui’ menambahkan, berkembangnya eksibisionisme seperti ini karena dipengaruhi budaya luar, dan komodifikasi para elite tertentu demi karena pengaruh unsur politik ekonomi dan manipulasi.
“Jadi, itu semata-mata eksibisi, bukan cara-cara yang berasal dari akar tradisi kita. Kaum muda dan intelektual Dayak jangan hanya berpangku tangan, saatnya mengambil bagian. Mulai dari diri sendiri, misalnya menanamkan sikap dan perilaku kritis berdasarkan Sapta Basa Dayak agar bisa bergaul dengan orang lain dalam keselarasan, dan nilai-nilai ilmu pengetahuan serta berkesinambungan,” imbuh Gunui’.
Diapun berharap agar kaum muda jangan terlena dengan keadaan saat ini, misalnya terpengaruh dengan praktik “balelet”, atau menjadi bagian dari masalah yang dapat menimbulkan krisis kebudayaan. Sebagai kaum muda, mahasiswa-mahasiswi memegang peranan penting dalam melakukan perubahan. Sekadar contoh, kaum muda mesti miliki kesadaran untuk bangkit bersama-sama, bahu-membahu melakukan upaya-upaya pemajuan kebudayaan Dayak yang kini banyak yang berada di ambang kepunahan. [*]

