Para Malaikat di Sekitar Rumah Sakit: Preparat Kosong Bapa Uskup
Seorang dokter patologi menatap hening sang preparat,
Ia yang biasa membaca sel dan isyarat maut,
Kini meraba luka di tubuh sendiri,
Penyintas CA Kolorektal yang lelah akan simpati.
“Jangan dulu,” bisiknya pada bayang-bayang,
“Aku tidak butuh doa yang diucapkan di depan mata,
Aku hanya ingin menyepi dari tatapan iba”,
“Meski niatmu suci, biarlah jarak menjadi doa.”
Di depan pintu yang dingin itu,
Seorang gembala duduk berlasakan kursi tua,
Membawa damai yang tak dipaksakan,
Ia paham bahwa Tuhan pun pernah menyendiri di taman,
Maka ia tak mengetuk, tak juga memanggil nama.
Ia hanya meletakkan hening di ambang pintu,
Membiarkan sang dokter merawat jiwanya yang kelu,
Terkadang, bentuk kasih yang paling dalam
Adalah menghargai sepi yang sedang dipeluk diam.
Tak ada suara, tak ada doa yang mengudara,
Hanya dua jiwa yang terhubung dalam rahasia,
Satu yang butuh sendiri untuk kembali utuh,
Satu yang menjaga dari jauh agar iman tak luruh…
Catatan redaksi: Esai ini telah mendapatkan persetujuan dari penulisnya untuk dipublikasikan di media ini.

