Merawat Pedagi, Menghormati Leluhur: Upacara Adat Mpokang Pedagi Nongu Hosuang di Kampung Selesung

2.709 Views

Sementara itu mewakili pihak keluarga pengatoh pedagi atau juru kunci pedagi Bapak M. Sama berkesempatan menyampaikan sejarah asal-mula ompu/kampung Hosuang atau Selesung kepada warga dan para pemuda/i, agar dapat diketahui bersama dan menjadi sejarah yang baku di komunitas Masyarakat Adat ompu Hosuang atau Selesung.

Beliau mengisahkan bahwa kampung Hosuang atau Selesung ini bermula dari peradaban leluhur terdahulu kampung ini yaitu Aba Tigiak (Kakek Tigiak), yang memiliki ilmu cukup tinggi sehingga membuat panembahan Tayan kuatir jika Aba Tigiak ini memberontak atau membuat kekacauan di wilayah kekuasaannya.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di wilayahnya, Raja Tayan saat itu merangkul Aba Tigiak agar menjadi bagian dari Panembahan Kesultanan Tayan dengan memberi gelar Mangku Kotn Panglima Raja Seorang Kaya kepada Aba Tigiak.

Mengingat awal mula peradaban ompu/kampung Hosuang atau Selesung ini dari sejarah Aba Tigiak ini, maka setiap tahun Masyarakat Adat di wilayah ini selalu mengadakan upacara Mpokang atau Bepontei kone Pedagi ini untuk menghormati dan menghargai para leluhur ompu Hosuang ini.

Kata Hosuang atau yang baku di administrasi pemerintahan disebut Selesung ini berasal dari kata Osuang (Lesung), Osuang ini memiliki tujuh lobang lesung yang tidak diketahui oleh warga siapa pembuatnya. Menurut kepercayaan warga Lesung ini diciptakan oleh kekuatan gaib penguasa alam sekitar. Saat Abai Tigiak memulai peradabannya dengan membuka hutan rimba belantara di lokasi ini, Situs Osuang ini sudah ada secara gaib.

Osuang atau Lesung ini berada di dasar Sungai Kedian dengan jarak dari muara sungai Selesung sekitar kurang lebih lima puluh meter ke arah hulu Sungai Kedian.

Untuk menghormati dan menghargai awal mula peradaban di wilayah ini sebagai sejarah awal berdirinya kampung Selesung, warga masyarakat menjadikan situs Osuang dan beberapa arca yang terbuat dari kayu yang tertancap di tanah serta makam Mangku Kotn ini sebagai Pedagi Nongu Hosuang.

Lokasi ini berada tepat di muara Sungai Hosuang, yang konon menurut cerita masyarakat setempat sebagai tempat Aba Tigiak atau Mangku Kotn ini mendapatkan ilmu kesaktiannya dan memulai peradaban ompu Hosuang.

Upacara Mpokang Pedagi ini rutin setiap tahun dilaksanakan selepas masa panen padi Masyarakat Adat Hibun di wilayah ini, kegiatan ritual adat ini sebagai bentuk upacara syukur atas hasil panen padi dari hasil pertanian berupa ladang mungguk dan sawah serta hasil-hasil bertani lainnya.

Kegiatan ini juga sebagai bentuk penghormatan Masyarakat Adat di wilayah ini kepada Penompo atau Tuhan serta kepada para Leluhur Masyarakat Adat berupa Pedagi Peguno, untuk tujuan mendamaikan manusia dengan alam.

Inti dari kegiatan upacara adat ini adalah upacara syukur atau Balas Niat atau Molah Niak ompu dalam bahasa setempat, yaitu ritual yang mempersembahkan hasil alam dari olahan lahan pertanian, serta pemeliharaan hewan ternak yang diniatkan tahun lalu sehingga diberi kemudahan dalam pengelolaan dan pemeliharaannya.

Di penghujung kegiatan upacara adat ini dilaksanakan kembali disampaikan Niat Ompu Benuo Hosuang untuk satu tahun kedepannya. Adapun niat yang diniatkan kepada Penompo serta para leluhur di Pedagi Nongu Hosuang adalah mohon bhoka atau berkat atas pengelolaan lahan pertanian, perkebunan serta pemeliharaan hewan-hewan ternak serta perlindungan ompu benuo atau kampung dari marabahaya, musibah dan bencana. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *