Membayar Niat Dari Keramat Tiang Bendera Raja Hulu Arai Di Meranggau

397 Views

Penulis: V. Mujirin & Manuk Kitow | Foto & Video: V. Mujirin | Editor: Giring

Meranggau, Kec. Meliau, KR—Matahari belum begitu naik dari tempatnya terbit. Jumat pagi (5/5/2023), jam 07:00 Wib, belasan orang berkumpul di “keramat tiang bendera raja hulu arai”. Situs keramat itu terletak di tengah pemukiman warga Desa Meranggau, Kec. Meliau Kab. Sanggau.

Pada waktu bersamaan, beberapa orang, para tokoh adat dan perwakilan Pemdes juga berada di bukit Cupang. Tepatnya di “keramat majapahit tanah bisa” yang dapat dijangkau sekitar 1,5 jam dengan berjalan kaki dari kampung.

Di dua keramat itu secara terpisah, tapi di waktu yang bersamaan mereka melaksanakan ritual adat. “Dari keramat tiang bendera Raja Hulu Arai” warga menyampaikan wujud syukur kepada Nek Duata (Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa) atas keselamatan warga dan keamanan kampung karena yang dikawatirkan terjadi seperti sakit penyakit selama masa Pandemi Covid-19 tahun 2020-2022 tidak terjadi,”  jelas Hermanto (62 tahun),  “pawang” pemimpin ritual adat itu.

Keramat ini memiliki kaitan sejarah dan ikatan sosio-kultural dan spiritual dengan Kerajaan Adat Hulu Aiq yang lazim disebut “Desa Sembilan Demung Sepuluh” (Sembilan Desa, Sepuluh Kepala Adat) yang berpusat di Laman Sengkuang, Kecamatan Hulu Sungai, Kab. Ketapang.

baca juga: Inilah “Periboh” Ritual Adat Keramat Tanah Bisa dan “Bayar Niat” Orang Dayak Desa, di Desa Meranggau

Ritual adat “keramat tanah bisa” dipimpin langsung “pawang utamanya” yaitu Sidik (61 tahun). Stevanus Murad (55 tahun) yang adalah “pebayu” (asisten khusus) ritual adat “keramat tanah bisa” menerangkan, ritual adat “keramat  tanah bisa” di bukit Cupang dilakukan rutin setiap tahun pada tanggal 5 Mei. Turut hadir dalam ritual adat tersebut selain para tokoh adat, perwakilan pemerintah desa, juga beberapa warga dan pemuda.

Tantangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *