Membahasakan Kabut Asap

20 Views

Harus diakui bahasa memang memiliki peran penting apalagi dalam situasi darurat seperti ini. Bahasa menjadi wasilah menyampaikan informasi dan mengarahkan masyarakat agar terhindar dari bahaya. Begitu pula, imbauan tentang seputar kabut asap dan langkah-langkah perlindungan diri jelas diperlukan sebagai bentuk komunikasi publik.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia kebahasaan, sayapun beranggapan bahwa bahasa imbauan tidak cukup hanya menyatakan larangan atau anjuran. Pesan yang meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan perlu disertai pemahaman terhadap kondisi sosial dan ekonomi mereka.

Tidak semua orang bekerja di kantor yang memungkinkan mereka menjalankan tugas dari rumah. Tidak semua pekerja memperoleh upah ketika tidak masuk kerja. Bagi pekerja informal misalnya, satu hari tanpa penghasilan dapat berarti berkurangnya uang untuk membeli beras, lauk, atau kebutuhan pokok lainnya.

Jadi isunya sebetulnya bukan semata-mata apakah masyarakat memahami bahaya kabut asap. Masalah krusialnya adalah apakah mereka memiliki pilihan yang memungkinkan mereka bertindak sesuai dengan pengetahuan tersebut.

Atas dasar itu, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan seseorang yang tetap bekerja di tengah kabut asap. Keputusan itu mungkin bukan karena ia mengabaikan kesehatan, tetapi ia sedang berusaha mempertahankan hajat hidupnya. Ia mengetahui risiko yang dihadapi, tetapi risiko kehilangan penghasilan juga nyata.

Dalam keadaan seperti ini, pilihan yang tersedia sering kali bukan antara sehat dan sakit lagi. Walakin, pilihan antara menghadapi udara berbahaya dan menghadapi kesulitan ekonomi. Di titik inilah, ada bahasa lain yang perlu didengar, yaitu bahasa kebutuhan hidup masyarakat.

Karena itu, penanganan kabut asap tidak cukup berhenti pada penyampaian imbauan kepada masyarakat. Pemerintah dan pihak terkait perlu menghadirkan dukungan nyata agar masyarakat dapat melindungi kesehatannya tanpa harus mengorbankan penghidupan.

Kebijakan bekerja dari rumah, bantuan bagi pekerja rentan, penyediaan ruang aman dari paparan asap, serta akses layanan kesehatan merupakan beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan. Hal ini penting untuk memahami bahasa imbauan tidak sekadar meminta masyarakat menghindari bahaya, tetapi juga diikuti upaya untuk membuat perlindungan diri benar-benar dapat dilakukan.

Krisis kabut asap mengingatkan kita bahwa bahasa tidak pernah berdiri sendiri. Di balik setiap imbauan, ada kehidupan masyarakat yang perlu dipahami dan diperhatikan. Pesan kebahasaan yang baik bukan hanya jelas, santun, dan mudah dipahami.

Lebih dari itu, ia juga mempertimbangkan kenyataan yang dihadapi penerimanya. Bahasa sejatinya menjadi jembatan antara pengetahuan tentang bahaya dan kemampuan untuk menghindarinya. Pada tahap itu, imbauan akan kehilangan maknanya manakala masyarakat memahami risiko, tetapi tidak memiliki pilihan untuk melindungi diri.

Dalam situasi seperti ini, upaya mendengarkan kebutuhan masyarakat sama pentingnya dengan menyampaikan pesan keselamatan kepada mereka. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *