Melalui PKW III, WALHI Bangun Gerakan Rakyat untuk Keadilan Ekologis
Sementara itu, materi komunikasi gerakan menjadi sesi lain yang sangat diminati. Peserta belajar membongkar narasi pembangunan hegemonik, menyusun kontra-narasi rakyat, serta mengasah kemampuan menulis, berbicara, dan memproduksi konten media sosial yang efektif dan kritis.
Topik lainnya yang tak kalah kontekstual adalah tentang keamanan dan keselamatan pejuang lingkungan hidup, mengingat meningkatnya kriminalisasi dan kekerasan terhadap aktivis belakangannya ini. Peserta harus mengetahui prinsip keamanan kolektif, manajemen risiko, dan cara membangun dukungan antarjaringan saat menghadapi ancaman.
Belajar dari Perjumpaan dan Budaya
Proses pendidikan PKW III tidak berhenti di ruang kelas. Peserta wajib mengikuti diskusi malam, kerja kelompok, hingga refleksi harian, di mana peserta bisa saling bertukar cerita perjuangan; dari pengalaman membangun pertanian agroekologis hingga mendampingi perempuan adat dalam konflik agraria. Dari proses ini diharapkan terbangun solidaritas lintas wilayah, dan memperkuat keyakinan bahwa perjuangan ekologis adalah perjuangan kolektif. Perjuangan dalam semangat kebersamaan.
Rizki Anggriana Arimbi dari Jaringan Modal Rakyat Sulawesi Selatan, mengatakan, PKW III adalah bentuk pengujian konsistensi, komitmen, dan integrasi kader-kader WALHI beserta anggota untuk memperkuat organisasi secara ideologis dan perjuangan.
“PKW III menjadi satu bentuk prinsip-prinsip untuk memperkuat nilai bagi kepemimpinan WALHI ke depan. Semua kader WALHI, khususnya dari unsur organik, harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan seperti ini guna peningkatan kapasitas perjuangan, baik dalam wacana, narasi, maupun aksi yang meneguhkan prinsip dan nilai kewalhian,” ungkap Rizki.
Rizki juga menekankan bahwa PKW III adalah jenjang pendidikan kepemimpinan tertinggi di WALHI setelah PKW I dan PKW II, yang diharapkan melahirkan kader-kader, yang memperbesar dan memperkuat gerakan ekologis, memperjuangkan keadilan dari akar rumput, dan menjadikan WALHI sebagai rumah besar gerakan lingkungan masyarakat sipil terbesar di Indonesia.
Tidak lupa Rizki juga menyoroti tantangan besar yang harus dijawab WALHI. “Kita perlu memperkuat kader dan pengurus dari tingkat tapak, terutama perempuan. Karena dalam banyak gerakan masyarakat sipil, keterlibatan perempuan masih minim. Partisipasi dan kualitas kepemimpinan perempuan di WALHI harus diperkuat agar perjuangan menjadi lebih adil dan inklusif,” tegasnya.
Setelah tujuh hari penuh pembelajaran dan refleksi, para peserta kembali ke komunitas, alamatnya dengan semangat baru dan bekal perjuangan yang lebih tajam. Mereka diharapkan akan menjadi pendamping warga dan pengorganisir komunitas, penulis dan penyebar narasi perjuangan, advokat lingkungan berpihak rakyat, mentor bagi kader-kader muda di wilayah masing-masing.
Kader Baru yang Mengakar
Semangat “Bergerak Jaga Bumi” bukan sekadar slogan, tetapi komitmen menyambung suara rakyat dan alam, memperkuat perjuangan dari akar rumput, dan membangun dunia yang adil secara ekologis.
Nur Colis, Deputi Direktur WALHI Jawa Tengah, menggarisbawahi, krisis lingkungan adalah krisis politik yang lahir dari kebijakan yang korup dan kapitalistik. “Generasi muda hari ini harus mampu membongkar akar persoalan secara struktural. Mereka harus berani menulis, bersuara, dan bertindak — baik melalui media sosial, tulisan panjang, atau aksi langsung,” tegasnya.
Pendidikan Kepemimpinan WALHI (PKW) adalah jantung dari proses regenerasi gerakan lingkungan hidup. Di tengah menyusutnya ruang sipil dan meningkatnya represi. WALHI menegaskan bahwa jalan pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk memperkuat gerakan rakyat yang kritis, berdaya, dan mandiri.
Dari ruang belajar menuju medan perjuangan, demi bumi yang lestari dan kehidupan yang adil untuk semua. PKW III 2025 melahirkan kader-kader baru yang cakap, militan, dan terorganisir. Dengan tekad kolektif dan visi bersama, mereka siap melangkah ke garis depan perjuangan. Semoga. [ ]

