Membahasakan Kabut Asap

19 Views

Dr. Sukardi Gau, M.Hum.

(Alumni Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin & Universitas Kebangsaan, Kuala Lumpur, Malaysia. Kini Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah) 

Beberapa hari lalu, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti bayi, balita, lansia, dan ibu hamil, untuk membatasi aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih berlangsung (www.kemkes.go.id, 15/10/2026).

Sebagai warga yang merasakan langsung dampak kabut asap ini, saya memandang imbauan tersebut penting untuk diperhatikan dan didukung secara penuh. Langkah ini diperlukan tentu saja untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap, terutama bagi kelompok rentan yang lebih berisiko mengalami dampak buruknya.

Di luar kelompok rentan tersebut, imbauan semacam ini tentu bukanlah hal baru. Anjuran menggunakan masker atau mengurangi aktivitas di luar ruangan kerap kali terdengar dan terlihat di berbagai saluran informasi. Ruang-ruang publik pun dipenuhi pesan serupa. Imbauan tersebut tentu saja masuk akal sebagai upaya melindungi masyarakat dari bahaya kabut asap.

Walau demikian, terdapat satu kenyataan yang kerap luput dari pesan-pesan tersebut, yakni tidak semua orang memiliki keleluasaan untuk berdiam diri di rumah. Di beberapa kota di Kalimantan Tengah yang masuk kategori berbahaya pun, kita bisa menyaksikan bagaimana aktivitas masyarakat berlangsung seolah-olah tidak begitu jauh berbeda seperti hari-hari sebelumnya.

Pada titik ini, masyarakat justru mafhum bahwa kabut asap berbahaya. Mereka paham betul, udara yang dipenuhi asap dapat mengganggu pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan. Begitu pula anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan lebih rentan terhadap dampaknya.

Walakin, pengetahuan tentang bahaya tidak selalu membuat seseorang bisa menghindarinya. Bagi sebagian warga, ada kebutuhan hidup yang tidak dapat ditunda, meskipun udara di luar rumah sudah tidak lagi layak dihirup. Jarak antara keduanya inilah yang ingin saya bicarakan dan bagaimana kita membahasakan kabut asap dengan lebih memahami manusia yang harus menghadapinya.

Bayangkan saja seorang pedagang kecil yang harus membuka lapaknya setiap pagi. Apabila tidak berjualan, risikonya tidak ada uang yang dibawa pulang. Seorang pengemudi ojek harus tetap menerima penumpang karena kebutuhan bahan bakar dan biaya makan. Lagi-lagi mereka tidak bisa menunggu kabut asap menghilang. Buruh harian, petani, pekerja bangunan, dan pencari nafkah lainnya pasti menghadapi dilema serupa. Sebetulnya orang-orang seperti itu bisa saja beristirahat di rumah, tapi kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak tetap menuntut penyelesaian.

Di sinilah imbauan untuk tetap di rumah berhadapan dengan kenyataan hidup masyarakat. Di satu sisi, bahasa imbauan menyampaikan apa yang sebaiknya dilakukan. Di sisi lainnya, keadaan ekonomi menentukan apa yang terpaksa dilakukan. Senyatanya dua realitas tidak selalu berjalan beriringan.

Bahasa Imbauan dan Bahasa Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *