NYANYIAN MANTRA KESELAMATAN DI HUTAN KERAMAT ADAT TEMBAWANG TAMPUN JUAH

2.788 Views

Babi dan ayam adalah bahan kelengkapan ritual adat selain bahan utama lainnya seperti kapur, sirih, pinang, tembakau, pelita, beras kampung, tuak, pulut, dll.

Nsangi, Enselan, Bedarak, dan Nyangahatn masing-masing dari Bi Somu, Sisang dan Iban Sebaruk, serta Kanayatn ditandaskan kepada Sang Pencipta dan leluhur. Para pemimpin ritual tersebut mengumandangkan nyanyian mantra keselamatan dengan penuh sikap religius berusaha menghubungkan manusia dengan leluhurnya terutama dengan orang Tampun awal yang diyakini tinggal di Menua Asal Tampun Juah itu.

Tujuannya meminta keselamatan peserta dan seluruh warga komunitas Tampun Juah serta kelancaran semua rangkaian acara GSTJ 2022. Ritual di Tampun mengawali acara hari kedua GSTJ 2022 yang dilanjutkan dengan kunjungan lapangan atau napak tilas ke tempat-tempat keramat adat.

TEMPAT KERAMAT

Tempat-tempat keramat adat tersebut memiliki cerita asal usul tentang kehidupan masa lampau orang Tampun Juah awal sebelum akhirnya mereka berpencar pindah ke seluruh dunia dalam kelompok-kelompok bahasa rumpun Ibanik dan Bidayuhik.

Masyarakat adat dari komunitas Tampun Juah menghargai tempat-tempat keramat itu sebagai situs sejarah dan budaya yang memiliki nilai tradisi lisan yang patut didokumentasikan.

Beberapa tempat keramat, di antaranya adalah Pulau Kudur, yang dipercaya sebagai salah satu lokasi tempat tinggal orang Tampun awal hingga sekarang. Mereka tidak bisa dilihat karena mereka senantiasa memasang perabun yang menghalangi pandangan manusia biasa terhadap mereka yang hidup dalam 2 dunia. Dalam istilah sehari-harinya mereka disebut orang bunian. Di lokasi tersebut ada larangan mengganggu hewan liar di situ termasuk buang air di area tersebut.

Tempat keramat lainnya yang terkenal adalan tunggul pohon kelapa. Orang-orang tua menceritakan bahwa tunggul pohon kelapa itu berada di area pemukiman orang-orang Tampun Juah zaman dahulu. Masyarakat sekitar percaya bahwa tungguh pohon kelapa itu sebagai bukti nyata keberadaan kampung tua. Lokasinya terletak di tengah sungai Segumon. Menurut orang-orang tua, saat ini wujud fisiknya sudah jarang sekali terlihat. Hanya orang yang punya keberuntungan yang bisa menemukan dan menjamah fisik tunggul pohon kelapa itu.

Kemudian, tebet atau pohon cangkok. Dipercaya sebagai salah satu peninggalan era Tampun Juah masa lampau. Daun pohon cangkok digunakan masyarakat sekitar untuk rempah alami atau bumbu masakan. Di lokasi yang dikeramatkan itu, ada semacam kesepakatan bersama bahwa siapa pun yang masuk ke area tersebut dilarang mengganggu hewan liar di area tersebut, juga termasuk larangan kencing.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *