Dayak sebagai Subjek Perjuangan: Tanggapan atas Jurnal Budaya Kusni Sulang

47 Views

Oleh Dr. JEMY RENHART – Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Palangka Raya.

Artikel ini merupakan tanggapan penulis terhadap Jurnal Budaya Kusni Sulang, berjudul “Jurnal Budaya Kusni Sulang: Bumi yang Bercirikan Chaos”. Penulis ingin merefleksikan kembali makna Dayak sebagai subjek perjuangan dalam konteks kosmologi Dayak Katingan yang bercirikan chaos. Chaos dipahami bukan semata-mata sebagai kekacauan destruktif, melainkan sebagai kondisi eksistensial yang menuntut respons etis, intelektual, dan praksis dari manusia Dayak.

Pendekatan yang digunakan bersifat reflektif-filosofis dengan memanfaatkan narasi budaya, puisi, dan dialog konseptual antara pengalaman lokal dan pemikiran global.

Konsep Chaos dalam Kosmologi Dayak Katingan

Dalam pandangan Dayak Katingan, dunia (Saran Danum Kalunen) merupakan ruang yang selalu berada dalam kondisi ketidakteraturan. Kekacauan tidak pernah sepenuhnya berakhir; satu kontradiksi yang diselesaikan akan melahirkan kontradiksi baru.

Oleh karena itu, manusia memiliki kewajiban moral untuk terus-menerus menata ulang relasi sosial dan ekologisnya. Chaos dalam konteks ini dapat dipahami sebagai metafora kontradiksi yang melekat pada kehidupan.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/jurnal-budaya-kusni-sulang-bumi-yang-bercirikan-chaos/

 Perubahan menjadi keniscayaan, dan kemampuan membaca hukum-hukum perubahan menjadi prasyarat bagi tindakan yang bermakna.

Okol dan Akal: Etika Perjuangan Dayak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *