Catatan yang Terbuang di Sekitar IMLEK
“Itulah pelajaran iman yang sesungguhnya. Gereja mengajarkan kita untuk tidak mempercayai ramalan nasib atau angka sial, karena itu merendahkan kedaulatan Tuhan. Kebetulan waktu bukanlah kutukan. Cap Go Meh adalah perayaan syukur atas terang”.
“Jika ia dipanggil setelah puncak perayaan itu, anggaplah ia telah menyelesaikan ‘perayaan’ dunianya untuk masuk ke dalam Perjamuan Abadi yang lebih mulia.”
Pak Tua:
“Dia berjuang melawan CA Colorectal itu dengan sangat berani. Sebagai dokter, dia selalu bilang, ‘Tuhan yang punya tubuh ini, saya hanya asisten-Nya.’ “Namun, saat melihat angka 69 itu di WA, saya merasa Tuhan seolah-olah membiarkan nasib yang bicara.”
Pastor:
“Pak, angka 69 hanyalah angka. Namun, usia 69 tahun yang dilewati Bu dokter adalah 69 tahun penuh kasih dan pelayanan.” “Dalam teologi penderitaan, kematian bukanlah kekalahan dari sebuah ramalan, melainkan ‘kepulangan’. Tuhan tidak memanggilnya karena pesan WA itu benar, tapi karena tugasnya sebagai penyembuh di dunia ini sudah selesai. Ia kini tidak lagi menganalisis penyakit, ia telah disembuhkan secara utuh di tangan Bapa.”
Pak Tua menarik napas panjang, mulai melepaskan ponselnya: “Jadi, ini bukan soal angka sial… tapi soal waktu Tuhan?”
Pastor:
“Tepat. Imlek membawa pesan pembaruan. Kepergian Ibu adalah pembaruan hidup yang paling sejati. Di ruang 102 ini, Bapak tidak sedang kehilangan istri karena ramalan, tapi sedang mengantarkan seorang pelayan Tuhan kembali ke rumah-Nya. Lepaskanlah beban ramalan itu, dan peluklah janji kebangkitan.”
Beberapa menit kemudian, rombongan dari Yayasan Kematian Kristoporus, masuk ke kamar 102 itu dan bersiap membawa istrinya ke rumah duka, di ruang St. Mikael.
Pak Tua dan anak tunggalnya mengawalnya di samping keranda.[ ]

