Christian Mara: Seniman Dayak Itu Tutup Usia

112 Views

Oleh R. Giring

Christian MARA – tokoh seniman Dayak, asal Jangkang, kampung Rosak, Desa Pisang Kab. Sanggau itu tutup usia. Masyarakat Kalimantan Barat, terutama masyarakat Dayak dan para penggiat seni yang akrab dengannya, tentu merasa kehilangan sosok tokoh seniman yang sangat bersahaja ini.

Baca juga:

Bang Christian Mara berpulang di usia 62 tahun, meninggalkan seorang isteri, 2 anak dan 4 cucu. Pernikahannya dengan Bega Swery melahirkan David Fernandes Swery dan Kinsan Sures Yuliana.

Pemandangan alat musik dan benda-benda seni di ruang lantai atas rumah betang “museum” milik Bapak Christian Mara di Gg. Perjuangan, Jl. Wonodadi 1.

Sekiar pukul 19.00 Wib, Rabu (19/8/2026), satu info kabar duka dari seorang kenalan masuk di WAG di mana penulis juga anggota di grup itu. Didorong rasa penasaran, penulis langsung menjapri kenalan tadi. “Validkah info duka bahwa Pak Christian Mara meninggal dunia?” tanyaku.

“Benar sekali bro. Beliau meninggal di salah satu rumah sakit di Pontianak ini,” balas kawan tadi. Tak lama kemudian. Di sejumlah WAG ucapan duka dan ungkapan rasa kehilangan tokoh seniman yang nyentrik itupun susul-menyusul.

Salah satu sudut ruang lantai 2 rumah betang “museum” Christian Mara. Beberapa jenis gendang dan perisai.

Christian Mara adalah salah satu di antara segelintir seniman Dayak yang berkiprah di kota Pontianak. Penampilannya yang sederhana seperti mendukung pembawaan ciri khas fisiknya yang cenderung oriental. Bentuk muka beliau cenderung oval, matanya sipit dan rambut hitam lurus panjang.

Beberapa tahun belakangan penulis kerap bertemu dengannya dalam beberapa pertemuan yang membahas topik kebudayaan atas undangan pihak DISDIKBUD KALBAR. Terakhir berjumpa di Pendopo Gubernur di RAKOR KEBUDAYAAN dan Penerimaan Anugerah Kebudayaan pada Oktober 2025 yang lalu.

Di acara yang berlangsung dari siang hingga malam itu, Christian Mara juga diundang. Ketika sesi break, perbincangan kecil bersamanya menunjukkan bahwa beliau masih sangat bersemangat dan tetap beraktivitas menghasilkan berbagai alat-alat musik tradisional.

Saat penulis di ruang lantai atas rumah betang “museum” milik Christian Mara.

“Meskipun manual sehingga memerlukan proses pembuatan yang lama, saya tidak akan berhenti membuat alat-alat musik hingga nafas terakhir,” tegasnya semangat kala itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *