Tamambalo, Bukan Tamambaloh: Tiga Keputusan Seminar Budaya di Uncak Kapuas

342 Views

Penulis: Apai Angas & Ef | Foto: Kiki | Editor: R. Giring

Benua Martinus, KR – Cuaca mendung menghiasi suasana pagi di pemukiman Betang Sao Langke Kampung Bukung Benua Martinus. Sejumlah warga betang yang telah menjadi cagar budaya itu terlihat seperti sedang menanti matahari cerah.

Sabtu (3/1/2026), di Betang Sao Langke, Kampung Bukung, Desa Benua Martinus, Ketamanggungan Tamambalo, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu dilaksanakan Diseminasi Karya Pengkajian Objek Pemajuan Kebudayaan. Diseminasi digelar dalam bentuk Seminar Kebudayaan dan Penayangan Film Dokumenter “Sundaman: Kebudayaan dan Tamanggung Tamambalo”.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/ritual-adat-nosu-minu-podi-sebagai-objek-pemajuan-kebudayaan-di-kabupaten-sanggau/

Hadir di acara ini kurang lebih 50-an orang, baik perempuan maupun laki-laki, orang tua dan anak-anak. Di antara hadirin ada para keturunan Tamanggung Tamambalo, Direktur Pusat Dayakologi, dan Tim Pengkaji Objek Pemajuan Kebudayaan Program Dana Indonesiana Tahun 2023.

Dalam acara yang dikoordinir Efriani dan Cornelius Kiki itu disosialisasikan hasil riset tentang Sundaman, yakni silsilah keluarga atau kekerabatan Dayak Tambalo yang terjalin karena hubungan perkawinan.

Kajian tersebut seperti dijelaskan Efriani, berfokus pada Komunitas Dayak Tamambalo di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, khususnya lagi golongan Samagat yang menjadi lapisan sosial penting dan melahirkan pemimpin adat yang disebut Tamanggung. Lebih jauh Dosen Antropologi FISIP Universitas Tanjungpura, Pontianak ini menerangkan, Samagat Tutu adalah Samagat yang utuh, keturunan dari pasangan Samagat memegang peran sentral dalam struktur sosial, keagamaan, dan pengelolaan wilayah adat Katamanggungan Tamambaloh.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/pelestarian-dan-perlindungan-ritual-adat-nosu-minu-podi-di-kabupaten-sanggau-kajian-budaya/

“Meski demikian, jumlah Samagat Tutu kini tinggal “sebilangan jari”, sehingga keberlanjutan kepemimpinan adat dan kebudayaan Tamambalo berada dalam situasi yang sangat rentan. Kondisi rentan ini semakin menguat ketika dihadapkan pada realitas bahwa kepunahan masyarakat pendukung kebudayaan akan berimplikasi pada hilangnya pengetahuan, praktik, dan pengalaman budaya yang selama ini ditransmisikan secara lisan antargenerasi,” ujar Efri. 

Kajian “SUNDAMAN” bertujuan menelusuri dan memetakan kembali genealogi Samagat Dayak Tamambalo sejak Tamanggung pertama pada tahun 1886 hingga masa kini, serta mengalihkannya ke dalam bentuk digital agar lebih aman dan mudah diakses.

Menurut tim kajian, hasil kajian tersebut telah terdokumentasi dalam bentuk buku monograf berjudul SUNDAMAN: Kebudayaan dan Tamanggung Tamambalo, yang dilengkapi visualisasi digital pohon keluarga Samagat dan produksi film dokumenter tentang Ketamanggungan Tamambalo.

Terkait hal ini, diharapkan agar hasil kajian ini tidak berhenti dalam wujud arsip tertulis saja, tetapi benar-benar hidup dan dimanfaatkan oleh komunitas adat, pemangku kebijakan, akademisi, dan publik luas. Selain itu, perlu ruang bersama untuk mendiskusikan temuan kajian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *