Para Malaikat di Sekitar Rumah Sakit: Ruang Konsultasi Bedah Digestif

196 Views

Di layar langit imaginer bergerak sebaris-demi sebaris nyanyian hati yang sunyi.

Di ambang gerbang pemulihan

Tiga bulan lalu, pisau bedah telah berbicara

Mengambil luka yang sempat menetap di raga

Kini, lorong rumah sakit terasa berbeda

Bukan sebagai dokter yang memeriksa, namun jiwa yang sedang dijaga.

Putih jas dokter masih tergantung di sana

Menunggu jemari ini kembali meramu diagnosa

Namun kini, fokusku beralih pada angka-angka di tubuh sendiri

Memastikan raga siap untuk babak baru yang menanti.

Ada cemas yang menyelinap di sela doa

Tentang cairan kimia yang akan masuk ke dalam sukma

Namun di balik lelah pasca-operasi yang perlahan memudar

Ada semangat yang tak kunjung padam, tetap berpijar.

Aku tahu, kemoterapi adalah jembatan yang harus kuseberangi

Meski terjal dan melelahkan hati

Aku menanti waktu, saat raga berkata ‘aku siap’

Untuk melawan sisa-sisa badai hingga benar-benar senyap.

Sebagai penyembuh, kini aku belajar untuk disembuhkan

Menghargai setiap napas dan setiap kekuatan yang Tuhan berikan

Sambil menanti hari di mana aku tak lagi jadi pasien yang menanti Namun kembali menjadi pejuang medis yang melayani.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *