Para Malaikat di Sekitar Rumah Sakit: Ruang Konsultasi Bedah Digestif
Di layar langit imaginer bergerak sebaris-demi sebaris nyanyian hati yang sunyi.
Di ambang gerbang pemulihan
Tiga bulan lalu, pisau bedah telah berbicara
Mengambil luka yang sempat menetap di raga
Kini, lorong rumah sakit terasa berbeda
Bukan sebagai dokter yang memeriksa, namun jiwa yang sedang dijaga.
Putih jas dokter masih tergantung di sana
Menunggu jemari ini kembali meramu diagnosa
Namun kini, fokusku beralih pada angka-angka di tubuh sendiri
Memastikan raga siap untuk babak baru yang menanti.
Ada cemas yang menyelinap di sela doa
Tentang cairan kimia yang akan masuk ke dalam sukma
Namun di balik lelah pasca-operasi yang perlahan memudar
Ada semangat yang tak kunjung padam, tetap berpijar.
Aku tahu, kemoterapi adalah jembatan yang harus kuseberangi
Meski terjal dan melelahkan hati
Aku menanti waktu, saat raga berkata ‘aku siap’
Untuk melawan sisa-sisa badai hingga benar-benar senyap.
Sebagai penyembuh, kini aku belajar untuk disembuhkan
Menghargai setiap napas dan setiap kekuatan yang Tuhan berikan
Sambil menanti hari di mana aku tak lagi jadi pasien yang menanti Namun kembali menjadi pejuang medis yang melayani.[]

