Para Malaikat di Sekitar RS: Di Dalam Mobil Grab
Oleh: Leo Sutrisno – Kolumnis, Dosen Purnabakti Universitas Tanjungpura, Pontianak. Sekarang Tinggal di Yogyakarta.
“Lho, Ibu Justina? Wah, ketemu lagi kita, Bu! Ini sudah ketiga kalinya saya dapat orderan Ibu dalam tiga bulan terakhir ini. Tapi kok… Ibu pucat sekali? Mau kontrol ke Poli Onkologi lagi seperti dulu, Bu?” Kata sopir Grab sambil membukakan pintu.
Justina tersenyum tipis sambil membetulkan posisi duduknya. “Pagi, Pak Iwan. Iya, Pak, rezeki kita ketemu lagi. Enggak, Pak, hari ini saya bukan mau periksa atau kontrol.”
Baca juga: https://kalimantanreview.com/para-malaikat-di-sekitar-rumah-sakit-kasih-di-selasar-utama/
“Aduh, maaf ya Bu kalau saya lancang. Habisnya dua bulan ini saya lihat Ibu sering ke RS tapi wajahnya lemas sekali. Terakhir saya antar kalau tidak salah pas mau Poli Onkologi itu ya? Sudah sehat, Bu?” Kata si sopir sambil menengok kaca spion di atas kepalanya.
“Alhamdulillah, Pak. Puji Tuhan! Saya sudah istirahat total dua bulan di rumah untuk pemulihan. Syukurlah! Minggu ini saya sudah bisa pergi sendiri.”
Si sopir, sembari masih melihat dari spion tengah dengan heran berkata: “Tapi kalau belum fit betul, jangan dipaksa sendirian, Bu. Biar ditemani keluarga. Ini langsung mau ke laboratorium atau ke ruang perawatan?”
Justina berkata pelan: “Hari ini saya tidak jadi pasien. Saya masuk kerja lagi, sejak dua hari lalu. Saya dokter di sini, Pak.”
Sopir itu mengerem mendadak saking kagetnya: “Astaga! Jadi Ibu ini dokter? Saya kira Ibu ini pasien yang sedang berjuang lawan kanker usus. Lah, kemarin-kemarin saya kasih semangat ke Ibu itu rasanya kayak ngajarin bebek berenang ya, Bu Dokter, maaf?”
“Sama sekali tidak, Pak. Semangat yang diberikan itu justru menguatkan saya. Dokter juga manusia, Pak, bisa kena sakit yang sama dengan pasiennya. Setelah dua bulan cuti operasi, rasanya kangen juga pakai jas putih dan periksa sampel di laboratorium.”
“Luar biasa, Dokter. Saya jadi terharu. Ternyata yang saya antar ini pejuang tangguh. Berarti kemarin waktu saya lihat Dokter jalan agak lambat itu memang masih menahan nyeri, ya?”
“Sedikit, Pak. Tapi minggu ini saya semangat karena sudah rindu dengan suasana rumah sakit. Terima kasih ya, Pak, sudah tiga kali ini mengantar saya dengan sangat hati-hati, tidak guncang-guncang.”
Sampai di lobi RS, sambil membukakan pintu, sopir berkata: “Sudah tugas saya, Dokter. Selamat bertugas kembali. Semoga sehat terus dan bisa menyembuhkan banyak orang lagi. Hati-hati turunnya, Dok.”
“Amin. Terima kasih banyak, Pak. Mari!” ujar Justina, sambil menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke Rumah Sakit dengan langkah mantap.
Ooo
Di tangga bianglala langit, menyembul guratan hati berpilin dengan semburat merah, suatu anugerah di dalam Grab
Di pagi yang cerah, namun sunyi membentang,
aku duduk terpaku, jiwa bimbang melayang.
Usai operasi, raga masih teruji,
kanker kolorektal, sebuah janji terpatri.
Imanku, pelita di kalbu,
“Sembuhkanlah aku, ya Tuhan,” doaku selalu.

