Para Malaikat di Sekitar Rumah Sakit: Ruang Konsultasi Bedah Digestif
Oleh LEO SUTRISNO – Kolumnis, Dosen Purnabakti Universitas Tanjungpura, Pontianak. Tinggal di Yogyakarta.
Tiga bulan telah berlalu sejak dr. Hai, seorang spesialis bedah digestif senior, melakukan reseksi tumor pada dr. Justina, sejawatnya yang merupakan spesialis Patologi Klinik (Sp.PK). dr. Justina didiagnosis menderita Adenokarsinoma Kolorektal Stadium III.
Setelah masa pemulihan pasca-operasi yang cukup panjang karena sempat mengalami komplikasi anemia, hari ini mereka bertemu di ruang konsultasi dr. Hai untuk menentukan langkah selanjutnya: Kemoterapi.
Ruang praktik dr. Hai terasa tenang namun profesional. Di atas meja, terdapat berkas hasil laboratorium terbaru yang diperiksa sendiri oleh dr. Justina di laboratorium, tempatnya bekerja.
Sambil tersenyum dr. Hai mempersilakan duduk. “Selamat siang, Dokter Jus. Senang melihat rona wajahmu jauh lebih segar hari ini. Bagaimana nafsu makan seminggu terakhir?”
Justina tersenyum tipis. “Siang, Dok. Jauh lebih baik. Saya sudah mulai bisa makan porsi normal tanpa rasa kembung yang hebat. Luka bekas operasi juga sudah tenang, tidak ada tanda-tanda granuloma atau nyeri tekan lagi.”

“Bagus. Saya sudah melihat hasil patologi anatomi yang kita ambil tiga bulan lalu, dan juga hasil lab terbaru yang baru saja kau kirimkan pagi ini. Kadar Hb sudah di angka 11,5 dan albumin sudah stabil di 3,8. Ini kondisi yang kita tunggu-tunggu,” dokter Hai merespon.
Justina mengangguk, ekspresinya berubah sedikit serius. “Saya juga sudah meninjau sendiri slide saya di lab, Dok. Mengingat ada keterlibatan dua kelenjar getah bening regional saat itu, saya sudah tahu arah pembicaraan ini. Kita harus segera masuk ke tahap adjuvant chemotherapy, bukan?”
“Tepat sekali. Sebagai sesama dokter, kita tidak perlu berbasa-basi. Stadium III membutuhkan kemoterapi untuk membersihkan mikrometastasis. Rencana saya akan merujukmu ke Onkologi Medik untuk memulai regimen FOLFOX atau Capecitabine, tergantung toleransi tubuhmu nanti,” Sambung dr. Hai sambil menarik alisnya ke atas.
Justina batuk-batuk kecil. “Jujur, Dok, ada rasa khawatir. Saya tahu persis efek samping sitostatika terhadap sumsum tulang. Saya takut leukopenia atau neuropati perifer akan menghambat pekerjaan saya di laboratorium. Saya masih ingin bisa melihat mikroskop dengan fokus,” Katanya.
Dokter Hai mencondongkan tubuh ke depan dengan nada empati. “Dokter Jus, kekhawatiran itu manusiawi, meskipun kita seorang dokter. Namun, penundaan tiga bulan ini sudah cukup untuk memberikan tubuh waktu pemulihan. Jika kita tunda lebih lama, risiko rekurensi akan meningkat secara signifikan. Kita akan mulai dengan dosis yang paling bisa ditoleransi tubuhmu.”
“Kapan dokter menyarankan saya mulai?” Tanya Justina
“Jika hasil evaluasi fungsi ginjal dan jantungmu minggu depan tetap stabil seperti ini, saya ingin mulai siklus pertama dalam sepuluh hari ke depan. Saya akan berkoordinasi langsung dengan dokter Onkologi-nya agar pemantauan hematologinya sangat ketat, mengingat itu adalah bidangmu sendiri.”
Justina menghela napas panjang, tampak lebih tenang dan berkata: “Baiklah, Dok. Saya rasa saya sudah cukup lama ‘beristirahat’. Saya ingin menyelesaikan perang ini agar bisa kembali memakai jas putih saya secara penuh.”
“Itu semangat yang saya tunggu,” sambut dr. Hai. “Kita lakukan ini bukan hanya untuk mengobati penyakit, tapi untuk mengembalikan kualitas hidupmu. Saya akan siapkan surat konsulnya sekarang,” lanjutnya.
“Terima kasih, Dok. Terima kasih sudah mengawal saya sejauh ini,” ucap dr. Justina sambil berdiri dan bersiap ke luar dari ruang konsultasi.
Keduanya berjabat tangan — sebuah simbol kepercayaan antara dua sejawat yang kini berjuang bersama melawan penyakit CA Colorectal ini.
Ooo

