Para Malaikat di Sekitar Rumah Sakit: Kasih di Selasar Utama
Oleh: Leo Sutrisno – Kolumnis, Dosen Purnabakti Universitas Tanjungpura, Pontianak. Sekarang Tinggal di Yogyakarta.
Pagi itu, udara di selasar Rumah Sakit terasa lebih sejuk dari biasanya bagi Justina. Setelah dua bulan menjalani istirahat total pascaoperasi CA colorectal, langkah kakinya kembali menapak di lantai rumah sakit yang sudah berpuluh-tahun menjadi rumah keduanya.
Di balik masker medisnya tersimpul senyum syukur. Sebagai seorang dokter spesialis patologi klinik, ia terbiasa bergelut dengan angka dan sel di laboratorium, namun hari ini, ia merasakan kehidupan dalam bentuk yang paling nyata: kesempatan kedua.
Saat melewati pintu masuk utama, ia meraba kalung salib kecil yang tersembunyi di balik jubah putihnya, membisikkan doa singkat atas penyertaan Tuhan selama masa-masa sulit pengobatannya.
“Selamat pagi, Dokter Justina! puji Tuhan, sudah sehat, Dok?” sapa Pak Beny, komandan sekuriti yang sedang berjaga.
Ia segera berdiri tegak dengan sikap hormat yang hangat.
“Pagi, Pak Beny. Iya, berkat doa semuanya, hari ini saya mulai masuk lagi,” jawab Justina lembut.
Tak jauh dari situ, seorang petugas cleaning service yang sedang mengepel lantai langsung berhenti sejenak dan menyapa dengan wajah sumringah.
“Aduh, Dokter sudah kembali. Kami rindu lihat Dokter lewat sini setiap pagi. Sehat-sehat terus ya, Dok!”
“Terima kasih banyak, Bu Ijah. Tuhan sungguh baik,” kata Justina sambil menepuk pelan bahu cleaning service itu.
Langkah Justina terus berlanjut menuju area administrasi depan. Para staf kantor yang biasanya sibuk dengan tumpukan berkas dan layar komputer serentak menoleh. Beberapa dari mereka bangkit dari kursi, memberikan lambaian tangan dan ucapan selamat datang kembali.
“Dokter Justina! Senang sekali melihat Dokter segar lagi,” ujar salah satu staf administrasi.
“Laboratorium terasa beda tanpa Dokter dua bulan ini,” sambung kawannya.
Justina berhenti sejenak, memandangi wajah-wajah familiar itu. Penyakit kanker yang ia lawan sempat membuatnya merasa rapuh, namun sambutan tulus dari rekan-rekan kerja lintas divisi ini menjadi obat penguat yang luar biasa.
“Pagi semuanya. Saya terus ke lab, ya,” balasnya pendek.
Ia menyadari bahwa kesembuhannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kembali melayani sesama di rumah sakit ini.

