Mengenang Mendiang Silvia Sayu, Doktor Perempuan Dayak Pertama dari Tanah Krio

107 Views

Penulis: GUNUI’ | Penyunting: R. GIRING

Bunyi sirene mobil ambulan memecah kesunyian jalan raya menuju Pemakaman Katolik Santo Yusuf, Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Puluhan mobil dan kendaraan bermotor ikut mengantarkan Silvia Sayu, menuju tempat peristirahatan yang terakhir.

Ratusan orang aktivis GPPK, keluarga dan rekan mendiang turut serta dalam seremonial pemakaman. Pastor Robert Ambrosius, Pr. melempar tanah ke keranda tempat Ibu Silvi dikebumbikan, “Tanah ini melambangkan apa yang terbuat dari tanah akan kembali menjadi tanah,” Ungkap Pastor Ambro.

Sembari menaburkan bunga yang diiringi suara isak tangis tiada henti dari pihak keluarga dan sejumlah aktivis yang baru kehilangan. Masih dalam suasana duka mendalam, sebagian besar warga yang hadir tampak sangat berat melepas kepergian atas mangkatnya salah satu putri terbaik dari Hulu Sungai ini.

Keluarga mendiang Silvia Sayu berfoto bersama.

Dr. Silvia Sayu lahir di Kampung Menyumbung, Kecamatan Hulu Sungai, Ketapang pada tangggal 14 Mei 1958. Sedari muda beliau telah mengabdikan diri di Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK), sebagai Office Girl hingga menjadi Direktur di Program Pendidikan Kritis (Pentis) Pancur Kasih hingga menjadi aktivis Senior di YKSPK.

Silvia Sayu adalah salah seorang sosok perempuan Dayak Katolik yang langka. Beliau seorang pendidik, pelatih, peneliti, mentor dan motivator serta aktivis perempuan adat yang tangguh. Tak heran jika dia dipercaya untuk menjadi pengurus di berbagai organisasi di lingkungan Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK).

Bu Silvi – begitu beliau biasa disapa adalah sosok yang selalu optimis, pekerja keras, dan pantang menyerah. Dia tumbuh dan mengabdikan diri bersama-sama aktivis lainnya di Pancur Kasih sejak 1980-an hingga akhir hayat beliau.

Mantir Pancur Kasih/Ketua GPPK, John Bamba mengungkapkan bela sungkawa yang mendalam. “Bu Silvi adalah seorang sahabat, seorang guru, seorang aktivis senior yang telah meninggalkan begitu banyak kebaikan bagi kita semua, khususnya bagi kami yang terhimpun dalam berbagai organisasi anggota dari Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih,” ungkap John dengan mata berkaca-kaca.

Keluarga duka mendiang Silvia Sayu saat misa requiem di Gereja Stella Maris, Siantan.

Semasa hidupnya Ibu Silvi dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan yang dengan setia dan berani memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya, khususnya di bidang ekonomi. Melalui gerakan Credit Union, beliau tanpa lelah melawan kemiskinan dan ketidakadilan struktural, menyalakan harapan bagi banyak komunitas. Demikian Lorensius Gawing mengenangnya dalam sebuah WAG.

“Sebagai seorang pendidik di Universitas Tanjungpura Pontianak, almarhumah memantaskan perjuangannya lewat Pendidikan Kritis yang mendidik dengan nurani, membebaskan dengan pengetahuan. Melalui Lembaga Bela Banua Talino (LBBT), Bu Silvia Sayu terus berjuang hingga akhir, setia menjemput panggilan hidupnya. Terima kasih atas pengabdian, keteladanan, dan perjuanganmu. Kiranya Tuhan Yang Maha Esa menyertai perjalananmu menuju surga dan memberi kekuatan serta penghiburan bagi keluarga, sahabat, dan seluruh aktivis yang kau tinggalkan,” kata Gawing.

Ia mengawali pengabdiannya di Pancur Kasih yang menaungi Persekolahan St. Fransiskus Asisi Pontianak, di mana beliau tidak hanya mengajar, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, kearifan lokal, dan kesadaran lingkungan kepada generasi muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *