Makna dan Nilai Tradisi Suroan bagi Masyarakat Jawa
Penulis: APRILIA PRATIWI – Pelajar SMKN 1 Mandor. Sedang Magang di Dayakologi | Penyunting: R. GIRING
Kata Suro berasal dari penanggalan Jawa yang merujuk pada bulan pertama dalam kalender Jawa. Bulan Suro memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat Jawa karena dianggap sebagai bulan yang sakral, penuh kehati-hatian, dan sarat dengan nilai spiritual.
Di Bulan Suro ini, orang Jawa meyakini bahwa manusia perlu melakukan introspeksi diri, menata kembali sikap dan perilaku, serta lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, menenangkan batin dan menghindari perbuatan hura-hura. Di bulan ini orang Jawa membatasi kegiatan tertentu dan lebih memilih memperbanyak doa serta menjaga tutur kata dan perbuatan. Nilai-nilai itu kemudian melahirkan sebuah tradisi yang dikenal dengan sebutan Suroan.
“Di kampung saya di Lumajang, tradisi Suroan masih dilaksanakan turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Tradisi ini dilaksanakan satu kali dalam setahun, tepat pada bulan Suro, sebagai bentuk penghormatan terhadap adat Jawa sekaligus wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kata Eyang Putri Suminah.

Pelaksanaan tradisi Suroan di Lumajang diawali dengan persiapan bersama oleh warga. Masyarakat bergotong royong membersihkan lingkungan kampung serta menyiapkan tempat pelaksanaan ritual yang dipimpin sesepuh kampung atau tokoh adat yang dihormati.
Pada hari pelaksanaan Suroan, warga berkumpul untuk mengikuti doa bersama dengan penuh khidmat. Doa dipanjatkan agar seluruh warga kampung diberikan keselamatan, ketenteraman, dan dijauhkan dari berbagai marabahaya. Suasana ritual terasa tenang dan sakral menunjukkan sikap hormat terhadap nilai-nilai adat Jawa.


