Festival Cap Go Meh Melestarikan Tradisi, Merayakan Keluhuran
Baca juga: Baca juga: https://kalimantanreview.com/tiong-kandang-rumah-spiritual-adat-dayak/
Di Festival “naga” tersebut, bagi masyarakat Tionghoa, dentuman keras petasan dan percikan kembang api bukan sekadar hiasan dan kemeriahan perayaan, tapi merupakan elemen ritual yang bermakna filosofis dan tradisional mendalam.
Suara petasan dipercaya dapat mengusir roh-roh jahat, makhluk halus, dan energi negatif yang berpotensi membawa ketidakberuntungan di tahun yang baru. Sedangkan percikan kembang api yang indah melambangkan sebagai penyambut keberuntungan, kesuksesan, dan kegembiraan yang akan datang. Selain menambah kemeriahan suasana malam bulan purnama, petasan dan kembang api juga menandai puncak perayaan 15 hari pasca Imlek.
Dengan demikian, petasan dan kembang api dalam pemainan naga menjadi simbol tolak bala sekaligus pancaran harapan akan kesejahteraan, keselamatan, dan rezeki yang berlimpah di tahun-tahun mendatang.
Malam Festival Cap Go Meh itu merupakan pengalaman kultural yang menyenangkan, memperkaya pengetahuan tentang khazanah tradisi Tionghoa dalam rangkaian penutup perayaan hari raya Imlek 2026.
Semakin tahu tentang kebudayaan orang lain, semakin menghormati perbedaannya dengan kebudayaan kita. Ini dimungkinkan karena dari pengalaman itulah, terjadi proses komunikasi antar-kebudayaan yang menjadi modal yang penting dalam berkembangnya gagasan dan sikap yang inklusif. Berada dan hadir dalam peristiwa kebudayaan orang lain (lian) memungkinkan seseorang menemukan dirinya yang lain – di tengah kehidupan sosio kultural yang beragam tapi indah.[*]

