Catatan yang Terbuang di Sekitar IMLEK

73 Views

Oleh LEO SUTRISNO – Kolumnis, Dosen Purbabakti Universitas Tanjungpura, Pontianak. Tinggal di Yogyakarta.

Dalam keheningan ruang 102, aroma antiseptik beradu dengan sisa wangi dupa dari kejauhan, Pak Tua duduk termangu. Di ranjang, istrinya—seorang dokter spesialis patologi klinik yang biasanya begitu logis menganalisis sel kanker—kini tertidur dalam damai yang abadi.

Pak Tua sambil menatap layar ponselnya yang retak, suaranya parau berkata:

“Romo, lihat ini. Pesan WA ini datang tepat di malam Imlek. Katanya, mereka yang berusia 69 tahun ini harus waspada, ada ‘pintu maut’ yang terbuka.

Saya menertawakannya saat itu. Tapi sekarang… tepat empat hari setelah Cap Go Meh, dia pergi. Apakah ini kutukan, Romo? Apakah iman Katolik saya kalah oleh angka-angka ini?”

Pastor yang duduk di sampingnya, meletakkan tangan di pundak Pak Tua.

“Pak, saya mengerti guncangan ini. Dalam budaya kita, angka dan waktu sering dianggap memiliki kuasa. Tapi mari kita lihat dari jendela kamar ini. Istri Bapak adalah seorang dokter patologi. Seluruh hidupnya ia habiskan untuk melihat kebenaran di balik mikroskop. Ia tahu bahwa sel-sel tubuh memiliki waktunya sendiri, namun ia juga tahu bahwa hidup adalah anugerah yang melampaui statistik.”

Pak Tua:

“Tapi waktunya begitu bersamaan, Romo! Seolah-olah pesan WA itu lebih ‘tahu’ daripada doa-doa Novena yang saya daraskan setiap malam di kamar ini.”

Pastor:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *