Bencana Ekologis “Terencana”, Bukan Bencana Alam Biasa
Teks: WALHI Sumatera Utara | Editor: Tim Editor & Giring
Rilis pers Walhi Sumatera Utara yang diedarkan ke publik dikeluarkan pasca bencana ekologis di 3 Provinsi di Sumatera pada akhir November 2025. Khusus bencana ekologis di Sumut, Walhi Sumut menyatakan, sejak Selasa (25/11/2025), sedikitnya 8 kabupaten/kota di Sumatera Utara terdampak banjir bandang dan longsor. Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah merupakan wilayah yang paling parah terdampak.

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf kembali memperpanjang status darurat bencana hidrometeorologi di Aceh selama 14 hari ke depan, mulai dari 26 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026.
Walhi Sumut mengatakan, puluhan ribu warga mengungsi, ribuan rumah hancur, serta ribuan hektare lahan pertanian rusak tersapu banjir. Tercatat 51 desa di 42 kecamatan terdampak, banjir melumpuhkan perekonomian, merusak infrastruktur, rumah ibadah, dan sekolah. Bencana paling parah melanda wilayah-wilayah di Ekosistem Harangan Tapanuli (Ekosistem Batang Toru), yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga.
Terkait korban jiwa di 3 provinsi di Pulau Sumatera, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan, korban meninggal dunia di 3 provinsi di Pulau Sumatera bertambah 6 orang. “Ada penambahan jumlah korban jiwa sebanyak 6 jiwa sehingga total yang kemarin 1.129 jiwa menjadi 1.135 jiwa,” kata Abdul Muhari saat memberikan keterangan pers secara virtual, Kamis (25/12/2025).

Berbagai bentuk bantuan dari para pihak yang berempati pada korban terdampak terus bergerak hingga kini meski di beberapa titik terdapat daerah terisolir yang sulit dijangkau termasuk karena aksesnya terputus.
Ekosistem Hutan Tropis Terakhir Sumatera Terus Terkikis
Ekosistem Harangan Tapanuli atau Batang Toru adalah salah satu bentang hutan tropis esensial terakhir di Sumatera Utara. Ekosistem hutan tropis ini 66,7% berada di Tapanuli Utara, 22,6% di Tapanuli Selatan, dan 10,7% di Tapanuli Tengah.
Ekosistem Harangan Tapanuli atau Batang Toru merupakan bagian dari Bukit Barisan. Hutan ini menjadi sumber air utama, mencegah banjir dan erosi, serta menjadi pusat Daerah Aliran Sungai (DAS) menuju wilayah hilir.

Tujuh Perusahaan Diduga Sebabkan Kerusakan
Direktur Eksekutif WALHI Sumut, Rianda Purba mengatakan tujuh perusahaan diduga memicu kerusakan akibat aktivitas eksploitasi yang dilakukan perusahaan tersebut. “Kami mengindikasikan tujuh perusahaan pemicu kerusakan lantaran aktivitas eksploitatif yang membuka tutupan hutan Batang Toru,” ujar Rianda Purba, di Medan, Rabu (26/11/2025).
Perusahaan-perusahaan itu adalah (1) PT. Agincourt Resources – Tambang emas Martabe, (2) PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE) – PLTA Batang Toru, (3) PT. Pahae Julu Micro-Hydro Power – PLTMH Pahae Julu, (4) PT. SOL Geothermal Indonesia – Geothermal Taput, (5) PT. Toba Pulp Lestari Tbk (TPL) – Unit PKR di Tapanuli Selatan, (6) PT. Sago Nauli Plantation – Perkebunan sawit di Tapanuli Tengah, dan (7) PTPN III Batang Toru Estate – Perkebunan sawit di Tapanuli Selatan.

