Asal Usul Tradisi Makan Bakcang dalam Kebudayaan Orang Tionghoa

218 Views

Berita itu sampai ke warga desa. Mereka terkejut dan berduka. Apalagi Qu Yuan adalah sosok yang mereka hormati dan cintanya pada  tanah airnya tidak pudar.

“Kita mesti melindungi tubuh Qu Yuan!” kata seorang nelayan tua. Warga mendayung perahu mereka ke tengah sungai sembari memukul genderang untuk menakuti roh jahat dan ikan agar tidak mendekati tubuh Qu Yuan.

Bahkan seorang ibu membawa segenggam beras. “Kalau kita lemparkan beras ini ke sungai, ikan akan memakannya dan tidak memakan tubuh Qu Yuan,” ujarnya. Mereka  melemparkan beras ke sungai.

Lantas, arus sungai sering membawa beras itu hanyut. Oleh karena itu untuk membuatnya tetap utuh, warga kemudian membungkus beras dengan daun bambu dan mengikatnya dengan tali, menciptakan bungkusan segitiga yang kuat. Bungkusan itulah yang kini dikenal sebagai bakcang.

Sejak hari itu, setiap tahun pada tanggal 5 bulan ke-5 penanggalan lunar, masyarakat Chu berkumpul di tepi sungai. Mereka membuat bakcang, mendayung perahu naga, dan mengenang pengorbanan Qu Yuan.

Dalam kebudayaan Tionghoa, sebagai bagian dari perayaan Imlek, tradisi makan bakcang terus dihidupkan hingga sekarang, memberi pesan tentang cinta, kesetiaan, dan penghormatan kepada seseorang yang rela berkorban demi negerinya. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *