Festival Cap Go Meh Melestarikan Tradisi, Merayakan Keluhuran

100 Views

Oleh R. GIRING – Pembelajar Tema tentang Kebudayaan di Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih & Pusat Dayakologi

Seru dan antusias. Inilah suasana keramaian warga pengunjung Festival Cap Go Meh dalam penutupan Tahun Baru Imlek 2026, yang dipusatkan di Jln. H. Juanda, Pontianak, Selasa malam (3/3/2026).

Ribuan warga berbondong-bondong menyaksikan pertunjukan terbuka tradisi permainan puluhan liong atau replika naga hias yang megah dan berukuran panjang. Para penonton meliputi orang-orang tua dan anak-anak muda.

Dalam bahasa Tionghoa dialek Hokkien/Tio Ciu, Cap go artinya lima belas. Meh artinya malam sehingga Cap Go Meh berarti malam kelima belas.

Dalam dialek Hakka disebut Cang Nyikat Pan. Cang Nyikat berarti bulan satu. Pan berarti pertengahan sehingga Cang Nyikat Pan berarti pertengahan bulan satu (Lie Sai Fat/X.F. Asali, 2008:27). 

Liukkan ekor, badan dan kepalanya yang memancarkan cahaya warna warni seolah memperlihatkan kebijaksanaan, kekuatan baik, dan keluhuran. Atraksi belasan hingga puluhan pemain naga semakin bersemangat dan seru saat diiringi pukulan tambur, gong dan simbal/ceng ceng, yang ditimpali bunyi dentuman petasan penghantar percikan kembang-kembang api ke langit biru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *