Asal Usul Tradisi Makan Bakcang dalam Kebudayaan Orang Tionghoa

70 Views

Penulis: VEREN OLIVIA SISWA – Pelajar kelas XII SMKN 8 Pontianak | Penyunting: R. GIRING

Suku Tionghoa memiliki beragam khazanah kebudayaan. Salah satunya adalah tradisi makan bakcang. Bakcang adalah penganan tradisional dibungkus dan dimasak dengan daun berbahan ketan, tapi sering juga berisi kacang dan daging. Tradisi makan bakcang diperingati setiap 1 tahun sekali setiap tanggal 5 bulan 5 kalender Imlek.

Tulisan tentang tradisi makan bakcang berikut diolah dari berbagai sumber media online dan wawancara dari Bibi Michele Yoen yang tinggal di Siantan, Pontianak.

Pada zaman dahulu, di negeri klasik Tiongkok bernama Chu, hiduplah seorang pujangga dan penasihat kerajaan bernama Qu Yuan yang terkenal bijaksana, jujur, dan sangat mencintai rakyatnya.

Baca juga:

Setiap hari, Qu Yuan menulis syair tentang keindahan negeri Chu dan cita-citanya untuk membawa rakyat hidup damai. Namun, tidak semua orang menyukai ketulusan itu. Beberapa pejabat iri hingga memfitnah Qu Yuan di hadapan raja. “Yang Mulia, Qu Yuan ingin merebut kekuasaan,” kata mereka. Rajapun termakan fitnah lalu membuang Qu Yuan dari istana.

Bakcang.

Sejak hari itu, Qu Yuan hidup di tepi sungai, menulis puisi sambil merindukan tanah kelahirannya. Walau terusir, ia tetap mendoakan agar negeri Chu tetap berdiri kuat. Suatu sore, dari kejauhan terlihat asap dan suara terompet perang. Qu Yuan mendengar kabar bahwa negeri Chu jatuh ke tangan musuh. Hatinya hancur. Tanah yang ia cintai lenyap, dan ia merasa tidak lagi mampu melindunginya. Dengan langkah berat, bersama hembusan angin dan air sungai yang mengalir deras, Qu Yuan berjalan menuju Sungai Miluo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *