INI REKOMENDASI DARI DIALOG KEBUDAYAAN DARURAT PERLADANGAN LOKAL, KEARIFAN ATAU ANCAMAN?

685 Views

Teks: RGM, Foto: Roni

Pontianak–Institut Dayakologi bersama dengan Walhi Kalimantan Barat dan IKIP PGRI Pontianak menggelar diaog kebudayaan tentang darurat perladangan lokal kearifan atau ancaman. Dialog diadakan di ruangan jurung Institut Dayakologi, Senin (16/12/2019).

Dialog kebudayaan tentang darurat perladangan lokal kearifan atau ancaman di Jurung ID

Dialog mengangkat tema yang diambil dari ungkapan dalam Bahasa Dayak Bakatik yakni “nahas kampong ba tuah, nasi ba barakat”, yang artinya adalah beras kampung punya tuah nasinya memiliki berkat.
Pandangan masyarakat pada umumnya dan khususnya orang luar terhadap praktik berladang seringkali disederhanakan sehingga perladangan gilir balik acapkali diidentikkan dengan perusak hutan dan penyebab bencana kabut asap. Cara memahami perladangan gilir balik seperti itu berbahaya sebab berpotensi menimbulkan konflik di masyarakat.

Krissusandi Gunui’, Direktur Eksekutif Institut Dayakologi

Hal tersebut diungkapkan Krissusandi Gunui’, Direktur Eksekutif Institut Dayakologi. “Itulah yang dialami sejumlah petani lading di Kab. Sintang baru-baru ini. Alih-alih meneggakan instruksi untuk mencegah dan menanggulangi Karhutla, para peladang justru dijadikan korban kriminalisasi,” tambah Gunui’.

Sementara itu, Dr. Saiful Bahri, dosen dan peneliti perladangan gilir balik dari Prodi IlPS IKIP PGRI Pontianak dalam paparannya mengatakan bahwa sistem perladangan orang Dayak Kanayatn di Lingga memiliki nilai-nilai yang sangat layak diajarkan dalam dunia pendidikan. Nilai-nilai tersebut, tambahnya, terdiri dari religiositas, kerja keras, disiplin, demokrasi, kepedulian social dan kepedulian lingkungan.

Dr. Saiful Bahri, dosen dan peneliti perladangan gilir balik dari Prodi IlPS IKIP PGRI Pontianak

“Dalam perspektif etnopedagogik, kita sarikan ke dalam 3 (tiga) nilai yakni kearifan local, nilai-nilai budaya luhur, dan karakter bangsa. Semua itu bisa diintegrasikan ke dalam mata pelajaran di sekolah agar peserta didik memahami nilai-nilai dalam system perladangan gilir balik di kalangan masyarakat adat Dayak Kanayatn,” pungkasnya.

Kedaulatan Wilayah Kelola Rakyat

Nikodemus Ale, Direktur Walhi Kalimantan Barat dalam paparannya menekankan pentingnya memahami perladangan gilir balik dari perspektif kedaulatan rakyat atas wilayah kelola rakyat. Dia menambahkan bahwa berladang dengan kearifan local bukan semata-mata untuk hidup dan pemenuhan kebutuhan beras saja, tapi lebih dari itu, yakni sebagai wujud kedaulatan wilayah kelola rakyat. Setelah berladang, biasanya para petani ladang pasti melakukan revegatasi di lahan bekas ladangnya (atau bawas Red: Bhs. Bakatik) dengan berbagai jenis tanaman local; dari aneka jenis kayu hingga buah-buahan local.

Nikodemus Ale, Direktur Walhi Kalimantan Barat

“Saat ini, situasi para peladang sedang terancam. Semakin sempit wilayah kelolanya, ketiadaan keberpihakan dari petugas negara hingga kurangnya kepedulian para pihak terhadap nasib para petani ladang. Ini tidak boleh dibiarkan. Semua pihak, terutama organisasi masyarakat sipil termasuk kalangan kampus dan akademisi harus berani melakukan advokasi terhadap keberadaan peladang gilir balik. Jika mereka terancam, maka kita juga terancam. Mereka telah berjasa melestarikan daya dukung lingkungan bagi kehidupan dan aneka ragam hayati di wilayah kelolanya,” ujarnya. Dia menambahkan, sudah semestinya kita bekerjsama untuk peduli pada praktik yang berkearifan lokal seperti ini, sebab peladang yang memiliki akses sekaligus juga dapat memberikan kontrol atas kedaulatan petani itu sendiri, baik dalam pemenuhan pangan dan strategi keberlanjutan kehidupannya.

Rekomendasi

Tujuan dialog kebudayaan ini sendiri adalah menyediakan ruang dialog intereaktif dan produktif antar para pihak khususnya tentang sistem perladangan lokal/khususnya perladangan masyarakat adat Dayak. Meningkatkan pemahaman mahasiswa, kaum muda dan tokoh masyarakat terkait adat istiadat dan tradisi perladangan Dayak, dan memberikan catatan kritis serta rekomendasi bersama tentang posisi perladangan gilir balik sebagai sebuah kearifan budaya dari berbagai sudut pandang.
Emi, panitia pelaksana mengatakan bahwa dari dialog tersebut diharapkan agar para pihak memiliki relasi dialogis dalam mendalami topik sistem perladangan gilir balik, khususnya yang dipraktikkan masyarakat adat Dayak. “Hal lainnya ialah meningkatnya pengetahuan dan pemahaman peserta tentang eksistensi perladangan Dayak sebagai salah satu wujud dari aktualisasi kebudayaan Dayak,” pungkasnya.

Moderator, R. Giring, menyampaikan catatan kritis dan rekomendasi hasil diskusi

Beberapa catatan kritis dan rekomendasi seperti disimpulkan oleh R.Giring, saat bertindak sebagai moderator dialog di antaranya sebagai berikut:

(1) Berladang secara gilir balik bukanlah ancaman; sejatinya berladang adalah praktik kebudayaan dan religi yang kontekstual, berkontribusi bagi keberlanjutan lingkungan hidup serta pelestarian aneka ragama sumber benih lokal;

(2) Berladang adalah hak akses sekaligus kontrol masyarakat adat/lokal terhadap wilayah kelolanya demi keberlanjutan kehidupan dalam aspek-aspek yang menyeluruh;

(3) Pemerintah dan para pihak seharusnya mengapresiasi, melindungi dan mengakui bahwa perladangan gilir balik ialah wujud dari praktik pengetahuan dan nilai kearifan lokal yang memiliki potensi positif untuk pembangunan karakter bangsa, seperti budaya gotong royong dan kerjasama,

(4) Pendidikan dan penyadaran kritis bagi masyarakat dan generasi muda perlu ditingkatkan agar sadar akan hak-haknya, akan kedaulatan pangan dan kedaulatan atas wilayah kelola; yang dapat dilakukan dengan berbagai kajian, diskusi dan publikasi serta kampanye public tentang nilai-nilai dari praktik perladangan gilir balik itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *