Menemburau: Tradisi Melayat Orang Meninggal pada Masyarakat Adat Dayak Jalai Kab. Ketapang

6.984 Views

Kesadaran hakiki itu membentuk spiritualitas sosial yang selalu dihidupi dalam kehidupan bersama warga Pangkalan Pakit khususnya, dan Dayak Jalai Sekayuq pada umumnya. “Menemburau” adalah wujud nyata dari spiritualitas sosial yang dilakoni sebagai kebutuhan sosial.

Seseorang akan berusaha pergi melayat meskipun dia berada jauh dari kampung tempat peristiwa kematian yang dialami saudaranya.

Jadi, penghormatan terakhir tersebut tidak semata-mata merupakan pengharapan dan doa demi “kehidupan dan keselamatan” orang yang meninggal ketika ia berada di dunia orang mati, tapi juga pengharapan dan doa bagi kehidupan dan keselamatan orang-orang yang melayat itu sendiri dan keluarga duka yang masih menjalani kehidupan di dunia nyata ini.

Rumah makam pun disiapkan sebaik-baiknya untuk dipasang di atas makam sebagai rumah baru bagi yang meninggal. Atapnya terbuat dari bahan seng, kerangka dan tiang-tiangnya dari kayu belian yang dikerjakan tukang khusus. Untuk menggotong rumah makam ke pemakaman, dibutuhkan tenaga 8 hingga 10 orang secara bergantian. Warga melakukannya secara bergantian.

Dalam kepercayaan setempat, jenazah yang telah dikebumikan disebut jiwanya menuju ke langit, badannya menyatu dengan bumi. Ungkapan lokalnya yaitu “Ansap ke langit, baru’ ke tanah.”

Penghormatan terakhir kepada sosok yang meninggal juga diwujudkan dengan “manyambit” atau musik tradisi dengan irama khusus yang dimainkan saat jenazah masih di rumah duka. Ini juga sekaligus menandai suasana berduka bagi keluarga yang mengalami peristiwa kematian. “Manyambit” hanya dimainkan ketika jenazah masih disemayamkan di rumah duka.

Punah

John Bamba penulis buku “Dayak Jalai di Persimpangan Jalan” (2003), saat diwawancara mengatakan bahwa tradisi dalam peristiwa kematian dalam masyarakat Dayak Jalai sudah banyak yang punah. Tradisi “menemburau” dan “manyambit” memang masih ada, tapi ini pun  sekadar sisa-sisa dari banyak tradisi yang sudah hilang ditelan zaman.

“Oleh karena itu, upaya penyelamatan unsur-unsur budaya orang Jalai, sebelum punah semuanya perlu dilakukan secepatnya, ” harap John.

Desa Pangkalan Paket terbagi menjadi dua dusun yaitu Kali Seberuangan dan Selandai Indah. Penduduknya 604 jiwa (Kecamatan Jelai Hulu dalam Angka, 2021.

Dari peristiwa “menemburau” itu, orang Dayak Jalai menunjukkan betapa berartinya sikap dan perilaku budaya “menghormati” sesama, bahkan sesama yang meninggal. Apalagi jika yang meninggal itu adalah sosok yang memiliki status sosial tertentu di masyarakatnya. [*]

Satu tanggapan untuk “Menemburau: Tradisi Melayat Orang Meninggal pada Masyarakat Adat Dayak Jalai Kab. Ketapang

  • 21 April 2022 pada 9:48 pm
    Permalink

    Upaya yang sangat mulia untuk tetap melestarikan adat dan budaya yang merupakan identitas diri dari suatu kaum. Ketika adat istiadat punah maka kita kehilangan jati diri yang sulit untuk ditemukan kembali. Good job…tabe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *