”Adat Batumuk Tihakng” Pembangunan Gedung Baru Persekolahan St. Fransiskus Asisi Pontianak

 

Rencana untuk memiliki gedung sekolah baru ini telah ada sejak lama beberapa puluh tahun yang lalu oleh para petinggi yayasan, namun keinginan tersebut baru dapat terwujud sekarang ini pada tahun 2013. Awal tahun yang baru 2013 ini, dimulainya pembangunan gedung sekolah baru yang akan membawa harapan, semangat baru dari semua pihak untuk kedepannya menjadi yang terbaik dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang mempunyai pola pikir cerdas, kritis, dan bertanggungjawab.

Apa itu Adat Batumuk Tihakng?

Dalam rangka penancapan tiang pertama ini tentunya tidak terlepas dari nilai-nilai budaya dan adat-istidat yang ada pada Masyarakat Adat Dayak Kanayatn yaitu dikenal dengan Upacara “Adat Batumuk Tihakng”. Upacara Adat Batumuk Tihakng ini yang akan di jelaskan lebih dalam bagaimana dan mengapa upacara adat Batumuk Tihakng ini harus dilakukan? Upacara adat ini juga merupakan Adat Talino Masyarakat Adat Dayak Kanayatn Kalimantan Barat. Adat Batumuk Tihakng ini merupakan sebuah tradisi Masyarakat Adat Dayak Kanayatn sebelum memulai untuk melakukan suatu pembangunan, misalnya gedung baru, rumah, dan bangunan-bangunan besar. Penancapan tiang pertama suatu pembangunan ini sangat penting di mulai dengan upacara adat yang di kenal dengan “Adat Batumuk Tihakng”, pada masyarakat Dayak Kanayatn selalu berhubungan dengan relasinya, alam semesta, semasa manusia, dan Tuhannya.

Masyarakat Adat menganggap bahwa nyangahatn bukanlah penyembahan berhala apalagi animisme, tetapi merupakan cara berdoa. Mereka percaya ada dua kekuatan: (1) Pelindung, pembawa rejeki, sumber kekuatan dari Jubata (Tuhan) Ne’ Patampa’ Yang Mahakuasa, dan (2) pembawa malapetaka, penyakit atau bencana alam. Dengan sastra lisan tersebut manusia menyadari dirinya harus berserah dan memohon perlindungan Yang Maha Kuasa, Sang Pemilik Langit dan bumi ini Jubata (Tuhan).

Upacara/ritual adat Batumuk Tihakng ini disebut dengan “Panyangahatn” sangat penting bahkan wajib dilakukan menurut adat Dayak Kanayatn sebagai suatu ritual meminta adat Ka’ Jubata (Tuhan), meminta ijin, mohon keselamatan, berkat kepada leluhur alam semesta tempat dimana kita membangun suatu pembangunan baru. Meminta berkat dan keselamatan kepada lehulur untuk mengusir roh-roh jahat supaya proses pembangunan berjalan lancar, bagi para pekerja mulai dari awal sampai pada bangunan tersebut selesai dibangun. Supaya tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi sehingga menghambat pembangunan tersebut. Berkat dan keselamatan akan nyata setelah gedung tersebut digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar dengan baik. Berkat dan keselamatan bagi keutuhan dan kekuatan gedung sampai kapan pun tetap kokoh dan berdiri tegak.

Upacara adat dipimpin langsung oleh Lusius Donatus Rapian yang biasa disapa “Pak Udak”. Beberapa tokoh yang terlibat langsung dalam upacara adat ini, yaitu Bpk. Drs. A.R. Mecer dan Maran Marcell sebagai pendiri Pancur Kasih, Pak Matheus Pilin, Ibu Twiseda Mecer sebagai Ketua Yayasan Pancur Kasih, Georgius, SP.,M.Si. selaku kepala SMA St. F. Asisi Pontianak, Adrianus, S.Si. selaku Kepala SMP St. F. Asisi Pontianak, Drs. Hermanus Abeh selaku ketua panitia upacara adat tersebut, Vandrektus Derek, A. Md. Waka kurikulum SMA, Pak Rata Ulam Silalahi sebagai Lurah Siantan Tengah, Pak Haidi, Pak Jamal, dan beberapa guru dan staff lainnya yang juga hadir untuk menyaksikan langsung upacara Adat Batumuk Tihakng tersebut, dalam upacara Panyangahatn.
Pembangunan ini didasari oleh syarat sekolah yang wajib memenuhi standar nasional pendidikan di mana ada delapan standar, satu diantaranya adalah standar sarana dan prasarana, yang mana telah dijelaskan oleh kepala sekolah SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak, Georgius, selaku Kepala SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak. “Untuk tahap awal sekolah membangun dua ruang kelas baru. Sumber pendanaan dari APBN P-2012 yaitu bantuan sosial khusus untuk tahun 2012 yang disalurkan melalui direktorat pembinaan SMA. Bulan November yang lalu kita ikut MoU di Jakarta, sedangkan pencairan dana terjadi pada bulan Desember 2012. Dana yang diperlukan cukup besar sehingga dari pihak Yayasan harus membantu. Hari pelaksanaannya dimulai hari ini (Jumat, 11/01/13) kerja efektif dan diharapkan targetnya akan berakhir 11 Mei 2013.” ungkap Georgius dengan semangat.

Pembangunan ini sendiri dibantu oleh pemerintah dan bantuan dari donator serta pihak lain. Menurut Drs. A.R. Mecer sebagai ketua GPPK, inilah kesempatan utama untuk memulai sebuah awal baru mewujudkan transformasi pembangunan secara bertahap di Persekolahan. Georgius berharap, dengan adanya pembangunan gedung baru ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan terutama dalam bidang sarana dan prasarana serta bisa menarik minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di Persekolahan Santo Fransiskus Asisi.

Upacara Adat Batumuk Tihakng oleh Masyarakat Dayak Kanayatn ini tentunya memiliki beberapa syarat sehingga upacara bisa dilakukan. Syarat-syaratnya adalah beras poek sunguh, kapur gamer, timako rokok, pinang, bamata duit sepuluh suku duit kertas Rp 1000,00 (seribu rupiah), duit katep (logam) 50 sen, manok (ayam) kampung 2 ekor, satu jantan satu betina, talok (telur) sebuah, tumpik, bontokng, dan poek lamang. Syarat-syarat tersebut harus dilengkapi dan dipersiapkan sebelum memulai upacara adat dan upacara panyangahatn. Makna dari perlengkapan tersebut hanyalah sebagai syarat yang harus ada dalam upacara adat ini sebagai persembahan kepada para leluhur alam semesta, berdamai, mohon izin, meminta berkat dan keselamatan karena Masyarakat Adat yang berhubungan dan berelasi dengan alam semesta, sesama manusia, dan Jubata (Tuhannya).***

ADELBERTUS ASISI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *