Tradisi Nugal, Peromo Mabau dan Manyi dalam Sistem Perladangan Masyarakat Adat Dayak Limbai di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat

701 Views

“Mongol” adalah tradisi menanam tumbuhan rempah-rempah. Di antaranya serai, kunyit, jahe, dan lain-lain yang dilakukan selama 7 (tujuh) hari.

“Nugal” baru bisa dilakukan setelah lahan ladang dipastikan bersih dan rapi. Oleh karena itu, Orang Limbai bekerja sama membersihkan sisa-sisa kayu dan serasah yang tidak terbakar oleh api yang disebut “Manduk”. Baru kemudian mereka menentukan hari dan tanggal untuk melaksanakan “nugal” atau menanan benih padi atau membenih padi di ladang. Sistem bekerja sama bergulir di kalangan Orang Limbai disebut “beari-ari”.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/tiga-langkah-mengubah-nasib-masyarakat-adat/

Pada saat akan mulai “nugal”, terlebih dulu benih padi disimpan di “Penohit” dalam “Tankin”. “Penohit” adalah wadah yang sudah disiapkan untuk meletakkan benih padi di tengah ladang. Sedangkan “Tankin” adalah wadah untuk menyimpan benih padi. Kemudian beberapa batu di sungai diambil untuk diletakkan di dalam “tankin” yang telah diisi benih padi. Batu-batu itu kemudian disebut “Batu Penohit”.

Selanjutnya si pemilik ladang melaksanakan upacara adat di “Penohit”. Sambil melakukan “sengkolan”. Mantra-mantra dilantunkan dengan lancar. Berisi permohonan kepada leluhur dan sang pencipta agar benih padi tersebut dapat tumbuh dengan baik sesuai harapan.

Pemimpin upacara adat mengoleskanlah darah ayam, menyiapkan daging ayam, dan sayur yang sudah dimasak. Setelah upacara adat di “Penohit” tersebut, maka “nugal” atau membenih padi di ladang dapat dimulai. Bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan anak-anak turut serta.

“Nugal” secara harafiah berarti menanam padi dengan cara membuat lubang tanam dengan alat bernama “tugal”. “Tugal” terbuat dari kayu ulin. Sementara yang lelaki membuat lubang tanam, beberapa ibu-ibu mengikuti alur lubang tanam sambil memasukkan benih padi ke dalam lubang tanam. Tahap “nugal” diikuti banyak warga, bahkan bisa mencapai 50 hingga 70-an orang.

“Nugal” dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, yakni kelompok yang bertugas membuat lubang tanam (menugal), dan kelompok yang membenih padi. Biasanya bapak- bapak bertugas “nugal” atau membuat lubang tanam, sedangkan ibu-ibu membenih padi.

Pelaksanaan “nugal” dilakukan dengan sangat antusias dan semangat. Apalagi banyak warga yang ikut. Kadangkala senda gurau dan canda tawa mewarnai tradisi nugal. “Nugal” atau membenih padi biasanya sampai jam 12.00 siang atau saat jam istirahat makan siang. Biasanya nasi, sayur dan lauk-pauk sudah disiapkan oleh keluarga pemilik ladang.

Usai makan siang bersama, si pemilik ladang menyiapkan upacara adat. “Kelongkang” disiapkan. Ia dibantu salah satu warga yang ikut menugal dan memahami seluk beluk upacara adat tersebut. “Kelongkang” dibuat dari bambu yang telah dibersihkan, lalu bilah-bilah bambu di bagian ujungnya dianyam dengan rotan sehingga menyerupai gelas. Kemudian “Kelongkang” diisi dengan nasi, topok (sejenis kue khas Dayak Limbai), rokok, sirih, tuak, air putih, dan kepala ayam, kaki ayam, sayap ayam, leher ayam, dan sedikit daging ayam yang sudah dimasak.

“Kelongkang” dengan seluruh isinya digantung di atas “Penohit Padi” atau tempat meletakan padi yang diletakkan di tengah ladang. Mantra-mantra diucapkan, burung ladang “diberi makan”, memohon kepada leluhur dan sang pencipta agar ladang menghasilkan padi berlimpah, semua tanaman lainnya tumbuh subur, dan seluruh yang hadir diberi kelancaran dalam segala usaha dan rezeki. Setelah upacara adat, maka kegiatan menugal dan membenih bisa dilanjutkan kembali hingga selesai.

Jenis Padi Ladang Orang Limbai

Masyarakat Adat Dayak Limbai menanam beberapa jenis padi lokal, baik yang berumur lima bulan maupun yang berumur tiga bulan. Jenis padi lokal yaitu padi empunak, bidu, linuh, entaok berumur lima bulan.

Jenis padi lokal lainya yang berumur tiga bulan yaitu padi lanuk, penyampoi, garok, tanus, dan raja. Padi ketan atau padi pulut juga biasa ditanam di sebuah ladang Orang Limbai.

Tanaman lain, seperti jagung, ubi jalar, labu, timun, terong, cabai, bayam, berbagai sayur mayur, dan tanaman rempah-rempah seperti kunyit, serai, jahe, dan lain-lainnya juga ditanam di ladang. Orang Limbai berladang untuk kebutuhan subsisten atau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di keluarga.

“Peromo Mabau” (Merumput)

Bulan September merupakan tahap merumput atau “Peromo Mabau” untuk membersihkan berbagai jenis rumput yang mengganggu pertumbuhan padi dan tanaman lainnya di ladang.

Merumput dapat dilakukan sendiri oleh anggota keluarga si pemilik ladang. Tapi juga bisa dilakukan secara bersama-sama dengan sistem kerja sama bergulir dalam sebuah kelompok kerja sama atau “beari-ari”. Disebut bergulir karena anggota kelompok wajib mengganti “hari” anggota yang lainnya dengan bekerja merumput di ladangnya.

“Manyi” (Panen)

Orang Limbai memanen padi ladangnya pada bulan Januari dan Februari. Dalam Bahasa Dayak Limbai panen padi disebut “Manyi”. Tapi sebelum panen dilakukan, Orang Limbai melaksanakan upacara adat yang disebut “Gawai Mokih” atau makan beras baru. Waktu “Gawai Mokih” ini tergantung kapan ladang mulai bisa dipanen.

Orang Limbai memilih dan mengambil sedikit padi lokal atau padi ketan yang sudah menguning, lalu ditumbuk dengan lesung. Kemudian berasnya dimasak untuk membuat makanan khas yang disebut “Umpit”.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/berladang-itu-berjuang/

Kemudian upacara adat berikutnya untuk padi yang sudah siap dipanen semua yaitu “Mengikat Semongat Padi atau Mengikat Daun Padi”. Bahan upacara adat ini adalah akar, ayam 1 sampai 3 ekor sebagai penghantar permohonan kepada leluhur dan sang pencipta agar semangat padi yang akan dipanen tetap mengikuti padi saat dipanen dan dibawa pulang ke rumah si pemilik ladang. Selanjutnya proses panen atau “manyi” sudah bisa dilakukan hingga selesai.

Terkait tradisi berladang ini, salah satu tokoh Masyarakat Adat Dayak Limbai, Pak Hinong mengatakan, Masyarakat Adat Dayak Limbai harus melestarikan tradisi berladang. Bukan hanya untuk mata pencaharian, tapi berladang untuk melaksanakan tradisi sebagai orang Dayak Limbai.

“Generasi muda Dayak Limbai harus mempelajari tradisi berladang, melestarikannya dan melaksanakannya agar kearifan lokal Orang Limbai tidak hilang ditelan zaman,” ujar Pak Hinong dengan penuh harapan. Semoga.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *