Tegakkan “Rumah Panjang” Kami

Oleh RGM

Judul Buku: TAMPUN JUAH TITIK BALIK PERADABAN DAYAK

Penulis: Krissusandi Gunui’ dan Ansilla Twiseda Mecer

Editor: R. Giring

Pengantar: John Bamba,  Prof. Neilson Ilan Mersat, Paolus Hadi

Penerbit: Institut Dayakologi

Tahun: Agustus 2019

Halaman: lii + 330 Peresensi: rgm.

Di buku yang dihantar dan disambut oleh John Bamba (mantir Pancur Kasih), Prof. Nielson Ilan Mersat (peneliti dan aktivis kebudayaan Dayak Sarawak), dan Paolus Hadi (Bupati Sanggau) ini Anda akan membaca tentang hal-hal mendasar yang bernilai filosofis, sejarah (lisan dan tulisan), budaya, dan upaya resiliensi sosial ekologi Komunitas Tampun Juah (KTJ).

Buku “Tampun Juah Titik Balik Peradaban Dayak: Revitalisasi Identitas Budaya melalui Pemberdayaan Holistik” (Agustus 2019) yang baru saja diluncurkan INSTITUT DAYAKOLOGI di hadapan sekitar 300-an hadirin di Segumon, Desa Lubuk Sabuk Kec. Sekayam pada Rabu (4/9/2019) itu memancing rasa ingin tahu saya lebih dalam lagi. Buku setebal lii+ 330 halaman tersebut kaya data, mulai  sejarah lisan, sosial budaya, adat istiadat, lembaga adat, agro-ekosistem, dan tentang bagaimana KTJ secara sosial ekologi menghadapi tantangan industrialisasi perkebunan monokultur, serta revitalisasi dan advokasi budaya KTJ.

Letaknya yang strategis di kawasan perbatasan RI-Sarawak menjadikan kawasan ini, secara sosial ekologi memiliki aksesibilitas yang tinggi dari berbagai kalangan. Budaya luar masuk, mulai dari warga pendatang hingga melalui sarana informasi dan komunikasi yang akses sinyal pun sangat cepat. 

Seperi ditulis dalam pengantar dan sambutan, dari John Bamba (Mantir Pancur Kasi), R. Giring (editor), Tampun Juah merupakan sisa-sisa dari sebuah kawasan yang bernilai sejarah, arkeologis dan antropologis, yang terancam akibat penggusuran dan penghilangan oleh tangan-tangan manusia, terutama ekspansi perkebunan kelapa sawit(hlm. iii-vi dan xxxi-xxxiv). Polarisasi (baca: pergeseran) mata pencaharian kaum perempuannya ke buruh harian lepas perusahaan merupakan dampak yang nyata dari proses idustrialisasi perkebunan kelapa sawit tersebut(hlm. 194-196).

Buku ini menawarkan ajakan untuk menegakkan “rumah panjang” bernama persatuan, martabat, dan peradaban Dayak. Dayak yang beragam, khususnya yang berasal dari rumpun Ibanik dan Bidayuhik, yang memiliki kebijaksanaan dan pandangan hidup bahwa manusia mahluk ciptaan Sang Maha Pencipta harus saling menghargai. Inilah makna dari era kesadaran orang Tampun Juah yang meninggalkan hukum tampun dan meninggalkan kebiasaan mengorbankan sesama manusia (hlm. 44-45).

Pemberdayaan Holistik

Salah satu nilai plus dari buku adalah diperkenalkannya istilah pemberdayaan holistik (bab 5). Pemberdayaan holistic adalah sebuah konsep sekaligus strategi mewujudkan komunitas dampingan agar bermartabat secara social budaya, mandiri secara ekonomi dan berdaulat secara politik serta berkesinambungan; prasyarat utamanya adalah kerjasama multipihak mulai dari komunitas, pendamping, pemerintah desa dan pemerintah daerah dan jaringan eksternal—dengan metode partisipatif yang menekankan hasil dari proses yang tepat, yang mempertimbangkan pendayagunaan potensi dan kearifan local sehingga komunitas dapat melanjutkan inisiatif pemberdayaan secara mandiri. Di sini pembaca diajak memahami Komunitas Tampun Juah yang menghadapi ancaman direspon oleh Institut Dayakologi dan Pemda Sanggau serta kerjasama dengan lembaga-lembaga anggota GPPK dengan pendampingan intensif lapangan melalui pemberdayaan holistic seperti dapat dibaca pada bab 5 tentang “Revitalisasi Komunitas Tampun Juah melalui Pemberdayaan Holistik (hlm. 170-310).

Cultural self reflection

Jika pembaca mencermati dengan seksama isi buku ini, maka pantaslah generasi dari KTJ akan menemukan dirinya yang lain—yang “ada” dengan segala sisa-sisa kekayaan alam dan budayanya—yangsedang menggeliat, menyerukan tegakkan “rumah panjang” kami,sebab di situlahsebuah gerakan kebudayaan sedang digencarkan.

Foto Cover: YM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *