PEREMPUAN ADAT DAN ANAK-ANAK KOMUNITAS TIONG KANDANG DI KALA BENCANA PANDEMI COVID–19

362 Views

Merawat Solidaritas di Masa Krisis

Tae Komunitas Tiong Kandang, Sanggau,
Interaksi perempuan Adat di Komunitas Tiong Kandang dengan alam dan sumber daya hutan sangat dekat. Bila biasanya hampir setiap hari perempuan dewasa bekerja di sawah, ladang, dan menyadap karet di kebun, maka tidak begitu ketika bencana pandemi virus Corona atau Covid-19 merebak. Kekhawatiran menyergap semua warga, tak terkecuali warga Perempuan Adat Tiong Kandang. Aktivitas perempuan dan anak remaja, termasuk anak sekolah di Desa Tae sedikit banyak terkendala. Interaksinya dengan alam mengalami penurunan selama 3 bulan bencana pandemi virus corona. Pelayanan belajar mengajar bagi pelajar, mulai dari SD, SMP hingga SMA tidak dapat dilakukan secara langsung di ruang kelas.

Jessika Febriani, Sedang melakukan aktvitas belajar di rumah menggunakan buku LKS.

Para pelajar belajar dan mengerjakan seluruh tugas mata pelajarannya di rumah masing-masing. Ambil contoh, Jessika Febriani, pelajar asal Kampung Mak Ijing, Desa Tae, yang duduk di kelas VII B, SMP Negeri 01 Balai mengatakan kepada Tim KR pada 10 Mei lalu, bahwa semua tugas, baikteori dan praktik yang diberikan guru sebelum pengumuman belajar dari rumah diumumkan. Siswa yang punya hoby menari dan teman-temannya harus mengerjakan semua tugas tiap mata pelajaran di rumah. Di antara tugas tersebut adalah Mata Pelajaran Bahasa Indonesia yaitu membuat surat dinas, tugas Mata Pelajaran Matemaatika yakni mengerjakan soal pilihan ganda di LKS, kemudian tugas Mata Pelajaran Bahasa Inggris adalah menyanyikan lagu berbahasa Inggris yang direkam menggunakan HP. “Semua tugas mata pelajaran itu harus dikerjakan sesuai jadwal belajar harian di sekolah,” kata Jessika yang mengaku mulai ingin segera belajar di sekolah di Balai.

Peran Perempuan Adat

Tanpa menunggu arahan pemerintah, komunitas Tiong Kandang, khususnya Ketemenggungan Tae langsung mengambil inisiatif untuk menutup akses ke/dari 8 kampung di Ketemenggungan Tae, Desa Tae dengan cara berpantang ketat selama 3-4 hari (lihat publikasi KR per April 2020: https://kalimantanreview.com/wabah-covid-19-mengancam-dayak-tae-mohon-kepada-jibata-pejaji-penampa-demi-perlindungan-dan-keselamatan-kampung-dan-dunia/. Sesuai pengetahuan lokal, mereka menghelat ritual adat tolak bala. Tujuannya meminta keselamatan dan perlindungan dari Jibata Pejaji Penampa (Sang Pencipta) agar terhindar dari landaan segala penyakit, kesialan, sampar hingga virus Corona. “Dalam proses penyiapan ritual itu, perempuan dewasa dan anak-anak remaja memainkan peran dalam menyiapkan bahan-bahan ritual adatnya yang semuanya bersumber dari hutan adat. Ini memang sudah tradisinya,” jelas Yopos, salah seorang Pengurus Adat (Jaga atau Wakil Temenggung), Ketemenggungan Tae, melalui pesan singkat.

Inisiatif Masyarakat Adat itu secara langsung mendukung himbauan himbauan pemerintah terkait pencegahan dan penanggulangan penyebaran wabah Covid-19, terutama di Ketemenggungan Tae, Desa Tae. Tae terdiri dari 8 kampung yaitu Tae, Teradak, Semangkar, Padang, Maet, Mak Ijing, Bangkan dan Peragong.

Dampak Bencana Covid-19 dan siasat warga

Wawancara dengan Zaenab dan Lusiana Icin warga Kampung Bangkan menjelaskan dampak bencana pandemi Covid-19, khususnya bagi kaum perempuan adat. Dampaknya sangat dirasakan warga. “Harga barang-barang naik. Gula pasir yang semula hanya Rp.12.000 per 1 kg, selama musim Covid menjadi Rp.24.000 sampai 25.000 per 1 kg nya,” ujar Zaenab. Krisis ini semakin menyulitkan warga Ketemenggungan Tae, terutama yang penghasilannya hanya dari menoreh karet. Warga terpaksa mencari pencaharian tambahan di antaranya menjadi pekerja harian di pasar. “Harga getah turun drastis dari Rp.7.000 per 1 kg, sekarang tinggal Rp. 3.000 sampai Rp.5.000 per 1 kg. Sementara bantuan dari pemerintah juga tidak semua warga mendapatkannya,” jelas Lusiana Icin. Dia menambahkan kalau kelompok perempuan di Kampung Bangkan yaitu Batu Ampai, setiap Sabtu dan Minggu berkebun sayuran, berbagai jenis sayur seperti bayam, sawi, terung, timun, dan lain-lain. Sedangkan kelompok bapak-bapak membuat kebun kelompok sendiri. Di setiap pekarangan rumah, warga juga menanam beragam rempah seperti jahe, kunyit, serai, lengkuas, cabai dan sayuran.

Kelompok perempuan adat Ketemenggungan Tae “Pitn Putai” baru saja sukses panen padi sawah kelompok. Berasnya dijual yang keuntungannya untuk menambah uang kas kelompok yang dikelola melalui CU FPPK yang miliki pelayanan di Pusat Ketemenggungan/Desa Tae. Menurut penuturan Zaenab, bekerja sawah dan berladang memang tetap dilakukan, namun waktu royongnya dikurangi. “Kami mengurangi waktu royong untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terkait ancaman virus Corona,” kata Zaenab.

Sosialisasi bahaya virus Corona

Kecemasan warga sedikit berkurang karena warga mendapat sosialisasi tentang pencegahan penyebaran virus Corona (Covid-19) dari Pejabat Dinas Kesehatan dari Kecamatan Balai Batang Tarang bekerjasama dengan Pemerintah Desa Tae. Imbauan jaga jarak fisik, jaga kesehatan dan tetap hati-hati, pun diterima warga. Dinas Kesehatan juga memberikan bantuan berupa cairan desinfektan dan 1 bungkus 1,5 liter sabun Sunglight untuk setiap Kepala Keluarga. Masing masing warga di Desa Tae wajib menyemprot rumahnya sendiri dengan desinfektan. Semoga keadaan darurat Covid-19 segera berlalu.

Masyarakat Adat dan Hutan Adat, minim perhatian pemerintah

Ketemenggungan Tae, Desa Tae merupakan salah satu komunitas adat yang keberadaanya sudah diakui dan ditetapkan pemerintah secara resmi, termasuk hutan adat seluas 2.189 hektar, terluas di Kalimantan, sejauh ini. Namun dalam menghadapi krisis dan pandemic Covid 19 ini, belum ada perhatian secara khusus dari pemerintah bagi komunitas adatnya. Sementara saat ini, komunitas yang menggantungkan hidupnya pada karet dan hasil hutan tertatih-tatih karena harga karet yang terus jatuh. Masyarakat lebih membutuhkan peran pemerintah menjaga dan mengintervesi harga komoditas lokal tersebut disbanding bantuan-bantuan karitatif yang juga tidak mungkin menjangkau semuanya. “Situasi ekonomi makin sulit di masa Corona ini, harga karet yang terus jatuh berakibat pada turunnya kemampuan warga memenuhi kebutuhan hidup, sebaiknya pemerintah membantu menjaga harga karet, jika tidak bisa menaikkan setidaknya janganlah menurunkan, bantuan seperti itu jauh lebih dibutuhkan daripada sekedar membagi beras bulog,” terang Yopos. Perempuan Adat dan warga berharap krisis covid segera berlalu dan pemerintah memberi bantuan dan respon ekonomi di wilayah dan hutan adat dengan cara yang berbeda, agar masyarakat tidak makin sengsara. Semoga.

Teks: Tehersiana Duyung. Foto: Sembolon/Dok ID. Editor: Giring & Gunui’.

Satu tanggapan untuk “PEREMPUAN ADAT DAN ANAK-ANAK KOMUNITAS TIONG KANDANG DI KALA BENCANA PANDEMI COVID–19

  • 12 Mei 2020 pada 9:49 pm
    Permalink

    Tetap semangat untuk semua perempuan adat yang ada di Desa Tae, semoga pandemi ini segera berlalu dan kegiatan kegiatan kelompok perempuan dapat terus berjalan 🙏🏻

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *