Mengais Keadilan di PN Mempawah

Kasus Penganiayaan terhadap A. Rogan oleh Oknum Sekdes Sompak bersama Anaknya Dibantu Kadus Sebadak, Desa Sompak

Kasus pengeroyokan atas diri Agustinus Rogan/A. Rogan (70) ini dilakukan oleh Sekdes Sompak, Baharun dan anaknya yaitu Adi alias Umpop dengan dibantu oleh Aban,  Kadus  Sebadak,  Desa  Sompak.  Kasus  ini dipicu oleh persengketaan batas tanah antara Agustinus Rogan dan Sekdes Sompak Baharun alias Dende yang telah melakukan penyerobotan tanah dengan cara membuat batas tanah berupa Parit Batas secara sepihak. Ada kemungkinan Baharun telah memiliki  sertifikat  atas  tanah  yang  berbatasan  dengan  tanah A. Rogan itu. Namun anehnya, jika memang Baharun telah mempunyai Sertifikat, maka ini pun dibuat secara sepihak karena A.  Rogan  yang  tanahnya  berbatasan  dengan  Baharun  tidak pernah diajak atau dilibatkan dalam proses penetapan batas tanah sebagaimana seharusnya dilakukan oleh seseorang  ketika akan membuat sertifikat tanah. Berikut kronologis penganiayaan dan pengeroyokan itu.

Kronologis pengeroyokan

Karena   merasa   tanahnya   sudah   mulai   bersemak,   maka pada hari Senin, (22/4/2013) A. Rogan mengajak adiknya To’on membersihkan  lahan  tanahnya.  Hari  ke-  3,  Rabu,  (24/4/201), jam 13.30 WIBA, ketika A. Rogan dan To’on sedang beristirahat, tiba-tiba datanglah rombongan Sekdes yaitu Baharun (Sekdes) dan Umpop anaknya, Kadus Sebadak yakni Aban, dan seorang petugas kantor kecamatan Sompak serta Kades Sompak yaitu Adrianus Kiting. Baharun dan anaknya masing-masing membawa sebilah parang.

Kemudian, Adrianus Kiting dan Aban memberitahukan kepada A.  Rogan  bahwa  mereka  akan  memeriksa  batas  tanah.  Lalu, Adrianus Kiting mengumpulkan parang milik A. Rogan dan To’on begitu juga milik Baharun dan anaknya. Semunya ada 4 bilah parang dan Kades Sompak membawa parang-parang itu pergi meninggalkan lokasi tersebut.

Beberapa saat kemudian Baharun dan anaknya, Umpop serta Aban mendekati A. Rogan. Umpop memaki-maki dengan kasar: “kurang ajar, asu’, laok, dst…”. Mendengar kata-kata yang janggal tersebut, A. Rogan langsung bertanya: “Siapa yang kamu maksud dengan kurang ajar, asu’, laok, dst…itu? Tak disangka Baharun langsung meninju sdr A. Rogan, tapi masih dapat ditangkis. Lalu Aban tiba-tiba memasung sdr A. Rogan dari depan dan memutarnya sehingga tubuh bagian belakang dan kepala A. Rogan berada di hadapan Baharun dan anaknya sehingga Baharun dan anaknya dengan mudah memukul bertubi-tubi sdr A. Rogan yang sedang dipasung sehingga ia sulit menghindar ataupun menangkis pukulan-pukulan tersebut.

Baharun dan anaknya menghentikan pukulannya  setelah  keletihan.  Sementara Aban pun baru melepaskan pasungannya terhadap A. Rogan. Mereka langsung meninggalkan lokasi kejadian itu. Meskipun memar-memar dan rasa sakit setengah mati, Sdr A. Rogan pergi melapor ke Polsek Mempawah Hulu di Karangan tentang pengeroyokan tersebut.

Beberapa proses hukum

1. Kasus ini baru digelar sidangnya di pengadilan pada hari Rabu 22 Oktober 2014, itu pun batal karena hakim yang memimpin sidang berhalangan.  Artinya  hampir  1,  5  tahun  baru disidangkan.

2. Dalam pemeriksaan di Kepolisian hingga di sidang pengadilan tanggal 29 Okt 2014 di PN Mempawah, status Aban yang turut dalam pengeroyokan tersebut, yang memasung korban, dinyatakan HANYA sebagai Saksi. Ini sangat janggal. Pada sidang tgl 29 Okt 2014 hakim meminta (menyarankan?) agar sdr. Rogan dan Baharun serta anaknya mengadakan perdamaian secara kekeluargaan; dengan catatan proses hukum tetap berjalan.

3. Kemudian, pada sidang tgl 5 Okt 2014, dalam acara pemeriksaan tersangka, ternyata sdr. Aban yang terlibat dalam pengeroyokan tersebut ternyata tidak dihadirkan.

4. Parang sebagai barang bukti terutama yang dibawa oleh Baharun dan anaknya, ternyata tidak pernah dihadirkan di pengadilan. Menurut A.Rogan , ketika hal ini ditanyakan kepada   pihak   kepolisian,   pihak   polisi   mengatakan parang tidak dihadirkan sebagai bukti karena tidak terjadi pembunuhan atau karena dalam pengeroyokan tersebut parang tidak digunakan.

5. Olah TKP yang diperintahkan oleh Hakim yang sedianya diadakan di Sompak pada hari Jumat, 14 Nov 2014, gagal dilaksanakan. Petugas pengadilan yang sudah tiba di Sompak pulang karena Jaksa tidak datang, padahal sdr. A. Rogan dan adiknya sudah siap menunggu di TKP. (Terkait  rencana  olah TKP ini,  sebagai  catatan,  bahwa sebelumnya pihak pengadilan tidak pernah mengarahkan atau menginstruksikan kepada A. Rogan untuk berkumpul atau menunggu sebelum pergi ke TKP).

6. Begitu sampai di Sompak, pihak pengadilan naik ke   rumah   pelaku   pengeroyokan   dan   penganiayaan yaitu Baharun, kemudian mereka ke kantor camat. Pertanyaannya apakah dalam proses hukum terkait kasus ini, pihak PN Mempawah tadi dapat dibenarkan?

7 . Pada hari Senin, 17 November 2014 melalui telp (HP) pihak kejaksaan meminta A. Rogan untuk bersama pelaku Baharun datang ke Kantor Kejaksaan di Ngabang pada hari Selasa 18 Nov 2014. Tetapi A. Rogan mengatakan tidak sempat kalau harus datang hari Selasa sehingga A. Rogan diminta datang hari Kamis saja.

8. Rabu, 19 November 2014, di mana kasus-kasus di wilayah PN Mempawah biasa disidangkan di PN Mempawah, ternyata sdr. Baharun tidak hadir. Dan pada kesempatan tsb, oknum jaksa yang menangani kasus ini, mengajak A. Rogan ke sebuah ruangan dan meminta A. Rogan untuk hadir ke Kejaksaan di Ngabang pada hari Kamis esoknya. Menurut oknum jaksa tersebut ini tujuannya untuk mengadakan perdamaian dengan sdr. Baharun. Sdr. A.Rogan menanggapi pernyataan oknum jaksa itu. Dia mengatakan: “perdamiaan yang mana lagi, karena pada tgl 29 Okt 2014 di dalam ruang sidang, perdamaian telah dilakukan, namun dengan catatan bahwa proses hukum tetap harus dilanjutkan.

Hasil sidang:

Baharun dan anaknya dituntut 3 bulan penjara

Sebelum sidang, jaksa kembali mengajak Pak A. Rogan untuk mengadakan perdamaian dengan pelaku, yaitu sdr. Baharun, namun ditolak oleh Pak A. Rogan, dengan alasan mengapa baru sekarang mengajak berdamai. Memang terasa janggal karena biasanya perdamaian hanya dilakukan ketika posisi sebuah kasus masih berada di kepolisian dan bukan setelah dilanjutkan di pengadilan.

Akhirnya sekitar jam 15.00 WIBA sidang diadakan. Jaksa menuntut terdakwa Baharun dan anaknya Umpop, masing-masing selama 3 bulan penjara. Pengacara terdakwa meminta waktu satu minggu. Menurut jadwal, sidang putusan akan diadakan pada Rabu berikutnya, 3 Desember  2014,  dan  diundur  menjadi  Rabu,  7  Januari 2015. Sidang juga batal karena terdakwa absen. Kemudian ditunda hingga Rabu, 14 Januari 2015. Keputusan: Umpop alias Adi bin Baharus diputuskan bersalah karena melanggar pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman kurungan penjara 32,8 tahun, tapi diputuskan kurungan penjara selama 3 bulan. Pihak keluarga dari pelapor alias korban merasa putusan itu tidak adil. “Semestinya tidak hanya Umpop yang dipenjara, tetapi juga Baharun dan juga Aban juga, karena mereka juga terlibat mengeroyok saya,’ ujar A. Rogan yang dibenarkan oleh Y. Bosco salah seorang keluarga A. Rogan. Pak A. Rogan sangat mengharapkan agar hakim menjatuhkan hukuman tidak kurang dari tuntutan jaksa, jika perlu lebih diperberat. Karena pelaku sdr. Baharun adalah seorang Sekdes yang harusnya menjadi panutan dan pelindung masyarakat. Kasus ini harusnya dapat menjadi pembelajaran hukum bagi masyarakat, khususnya masyarakat Sompak.[ ]

Disusun berdasarkan pengakuan dan/atau pernyataan beberapa keberatan sdr. A. Rogan, warga desa Sompak, selaku korban pengeroyokan oleh Baharun, Umpop dan Aban, selama yang bersangkutan mengais keadilan mulai dari kepolisian sampai sidang di pengadilan. Hingga Minggu pertama Januari 2015, A. Rogan selaku pelapor tinggal menunggu pembacaan dakwaan jaksa dan keputusan hakim yang sedianya telah dibacakan di sidang tanggal 3 Desember 2014. Artikel dikirim oleh Y. Bosco.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *