Membangun Sinergi, Memperluas Gerakan Pelayanan

“…aktivis GPPK termasuk aktivis CU yang mendapat sentuhan pelayanan GPPK semakin memahami tentang arti pentingnya sinergisitas antar GPPK dan gerakan CU sehingga dapat memperkuat perluasan gerakan pelayanan dalam mengabdi untuk keselamantan dan kehidupan”.

Hubungan yang saling menguatkan antara Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK) dengan gerakan Credit Union secara utuh mentransformasikan filosofi petani dalam gerak pelayanannya kepada masyarakat dan anggota-anggotanya merupakan tuntutan yang tak dapat ditawar-tawar lagi untuk saat ini dan akan datang. Hal ini adalah kemutlakan, apalagi akhir-akhir ini ada banyak permohonan fasilitasi pengembangan Credit Union berbasis filosofi petani dari berbagai daerah di Nusantara kepada GPPK. Baik aktivis di lembaga non-pemerintah maupun di lembaga Credit Union, keduanya sama-sama menjalankan fungsi advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Hal itulah yang menjadi irisan dari kerja-kerja para aktivis, meskipun masing-masing lembaga/unit program memiliki kekhasan dan bahkan perbedaan dalam focus layanannya kepada masyarakat di Kalbar khususnya, dan Kalimantan serta wilayah-wilayah lain di Nusantara. Itulah yang disadari oleh para aktivis GPPK bersama Perkumpulan Gerakan Credit Union Filosofi Petani Kalimantan (GCU-FP Kalimantan), yang dalam kegiatan kesehariannya selain advokasi masyarakat, juga mendukung pelayanan dalam bidang pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Untuk memperdalam pemahaman tentang nilai-nilai GPPK dan pemahaman tentang sinergisitas antara GPPK dengan gerakan Credit Union berbasis filosofi petani, Sekretariat PANCUR KASIH, pada tanggal 18 Januari 2013, bertempat di Wisma Immaculata, Susteran SFIC Pontianak mengadakan Semiloka Internalisasi Konsepsi Gerakan Credit Union Filosofi Petani dan Sinerginya dengan Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih. Semiloka mengajukan tema “Mensinergikan Konsepsi Gerakan Credit Union Filosofi Petani dengan Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih menjadi Aksi Strategis dalam Mengabdi untuk Keselamatan dan Kehidupan”. Kegiatan ini menghadirkan para fasilitator yakni AR. Mecer, John Bamba, Matheus Pilin, dan Sunarto. Sejumlah 74 aktivis laki-laki dan 34 aktivis perempuan dari berbagai unit/program di lingkungan GPPK tampak bersemangat mengikuti kegiatan tersebut. Yang tidak hadir semua adalah staf BPR Pan Bank dan guru-guru dari Persekolahan Santo Fransiskus Asisi karena pada saat yang sama sedang menyelesaikan tugas-tugasnya dan mengajar. Namun kedua unit/program ini tak ingin ketinggalan informasi sehingga mengirimkan perwakilannya agar dapat mendapatkan informasi dan update perkembangan gerakan.

Semiloka diawali dengan paparan AR. Mecer tentang topik Pengembangan Kesejahteraan melalui Credit Union berbasis Filososi Petani. Intinya ia menekankan bahwa pengembangan kesejahteraan hidup mesti mencakup empat (4) hal penting yang saling melengkapi sebagaimana sering disebutnya sebagai filosofi petani, yakni: kebutuhan sehari-hari/makan-minum (basic-needs); kebutuhan benih atau investasi (survival-needs); bekerja-sama/solidaritas (social-needs); dan spiritual/ritual (spiritual-needs). Keempat hal penting tersebut dapat dikembangkan melalui Credit Union yang bersinergi dengan nilai-nilai kebijaksanaan hidup lokal atau kearifan lokal.

Sementra itu, John Bamba menyampaikan materi “CU Gerakan Filosofi Petani Kalimantan”. Dia memaparkan bahwa CU sebagai gerakan telah tumbuh-berkembang di seluruh Kalimantan dan Nusantara. GPPK tak dipungkiri ikut berperan dalam memperluas gerakan CU di Kalimantan dan Nusantara. Menurut John, sampai tahun 2012, GPPK berperan penting dalam pendirian dan pengembangan keberadaan 63 CU di 7 pulau (13 provinsi) di Nusantara. “Filosofi petani dalam konteks CU sebagai gerakan, seperti yang digagas oleh AR. Mecer pada dasarnya adalah agar menjadikan manusia sebagai manusia seutuhnya, manusia yang memiliki harkat-martabat-kedaulatan-dan kesinambungan, sebagaimana sering disebut sebagai manusia seperti citra Allah,’’demikian katanya.

Sementara itu, Matheus Pilin mengajak peserta Semiloka untuk selalu ingat bahwa dalam rangka mencapai tiga (3) visi GPPK: mandiri secara ekonomi, bermartabat secara budaya, berdaulat secara politik,–dibutuhkan 3 hal utama yang melibatkan para pihak, yakni kerja-kerja yang bersinergi, beraliansi dan itu harus dilakukan syarat terorganisasi. Ini bukan semata-mata ditujukan kepada masyarakat “Dayak”, tetapi juga masyarakat tertindas pada umumnya. Menurutnya, 3 hal utama tadi mempersyaratkan pemberdayaan, penataan ulang di tingkat komunitas, pemulihan pelayanan lingkungan alam, peningkatan produktivitas lokal dan kesejahteraan, perluasan partisipasi, penegakkan asas Free Prior and Inform concern/FPIC, dan mengambil peran dalam perjuangan demi keadilan global.Itulah yang disampaikannya dalam materi “Memperkuat Gerakan Pemberdayaan Melalui Konsepsi Filosofi Petani”.

Sunarto dari Perkumpulan Gerakan Credit Union Filosofi Petani Kalimantan (GCU-FP Kalimantan) memperkenalkan GCU-FP Kalimantan yang lebih merupakan perkumpulan yang keanggotaannya adalah CU-CU yang menerapkan konsepsi filosofi petani secara utuh, dan di perkumpulan inilah pelayanan perlindungan anggota dikelola, termasuk mengelola iuran solidaritas. Jadi GCU-FP Kalimantan bukan merupakan sebuah Puskopdit. Ellen Babaro, aktivis Pentis-PK, peserta semiloka berharap agar aktivis GPPK termasuk aktivis CU yang mendapat sentuhan pelayanan GPPK semakin memahami pentingnya sinergisitas antara GPPK dan gerakan CU agar dapat memperkuat perluasan gerakan pelayanan demi mengabdi untuk keselamantan dan kehidupan.***

GIRING

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *