IDENTITAS DAYAK BUKAN DITENTUKAN AGAMA MODERN

“Kuliah Umum ID untuk 46 Mahasiswa IKIP menandai startnya kerjasama perkuliahan Fakultas IPPS dengan Institut Dayalologi, mulai 2019”.

Teks: YM, Foto: DokPub ID.

PONTIANAK–Senin (15/7/2019), 46 mahasiswa Prodi Sejarah, Fakultas Ilmu Pendidikan Pengetahuan Sosial IKIP PGRI Pontianak kuliah umum ke Institut Dayakologi. Temanya adalah “Orang Dayak dalam lintasan Sejarah” yang dipresentasikan langsung oleh Krissusandi Gunui’ (Direktur ID), dan R. Giring, Wakil Direktur ID, yang berperan sebagai moderator. Kuliah berlangsung di Jurung Institut Dayakologi.

Foto bersama Mahasiwa FIPPS IKIP-PGRI Pontianak pada saat Kuliah Umum di Aula Jurung Kantor Gedung ID

Mahasiswa semestar 2 dan semester 4 tersebut berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Barat. Dengan jaket almamater warna ungu mereka didampingi Dekan FIPPS IKIP-PGRI Pontianak, Eka Jaya Putra Utama, M.Pd, dan 4 dosen lainnya.

Kuliah dimulai pukul 09.30 WIB itu berlangsung selama kurang lebih 2 jam, diawali perkenalan singkat dari mahasiswa, sekaligus menyampaikan hal apa yang ingin didapatkan peserta selama sesi tersebut. Satu persatu mahasiswa memperkenalkan diri dan menyampaikan berbagai pendapat seputar ketertarikan kepada kebudayaan Dayak itu sendiri, baik seputar adat, tradisi, kesenian, sejarah dan fenomena masa kini yang mempengaruhi keberadaan kebudayaan Dayak.

Beranjak dari berbagai keingintahuan tentang kebudayaan Dayak yang disampaikan oleh peserta tersebut, Krissusandi Gunui’ memulai materinya dengan memperkenalkan sejarah singkat berdirinya ID, hingga kiprah ID dalam memelihara kebudayaan dayak selama kurang lebih 28 tahun ini, sekaligus menyampaikan perspektif ID tentang kebudayaan Dayak itu sendiri. Respon dari beberapa mahasiswa menambah diskusi semakin berkembang. Fenomena sosial yang mempengaruhi kebudayaan Dayak yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dewasa ini pun tak luput dari pembahasan. Seperti dampak kerusakan lingkungan kepada kebudayaan dayak, hingga pandangan yang keliru, namun justeru berkembang dengan baik di masyarakat Kalbar, seperti “fenomena perubahan identitas suku yang dikarenakan berubahnya kepercayaan dan agama”.

 “Ya… tentu aneh, di mana seorang Dayak jika beralih kepercayaan/agama, misalnya dari sebelumnya memeluk agama adat atau asli, atau agama Katolik kemudian masuk agama Islam, orang tersebut sudah dianggap atau menganggap dirinya bukan Dayak lagi. Tentu hal tersebut tidak benar, yang beralih adalah agama/kepercayaannya tetapi etnis/sukunya tentu tetap Dayak,” ujar Gunui’ merespon diskusi yang hangat tersebut.  

This image has an empty alt attribute; its file name is MoU1-900x414.jpg
Serah terima MoU tentang kerjasama ID & FIPPS IKIP-PGRI Pontianak

Di penghujung kuliah, ditandai dengan penandatanganan MoU antara IKIP PGRI Pontianak yang diwakili Dekan FIPPS IKIP-PGRI Pontianak, Eka Jaya Putra Utama, M.Pd, dengan Institut Dayakologi yang diwakili oleh Direkturnya, Krissusandi Gunui’. MoU itu tentang kerjasama di antara kedua lembaga tersebut.

Florentina S. salah satu peserta kuliah umum mengaku senang dengan diadakannya kuliah umum tersebut, “senang karena mendapat pengetahuan-pengetahuan baru tentang kebudayaan di Kalimantan Barat, khususnya kebudayaan Dayak. Saya harap ke depannya pelestarian kebudayaan dan pemberdayaan masyarakat Dayak oleh Dayakologi dapat dituangkan dan ilmunya dapat diberikan kepada para mahasiswa sebagai bahan pembelajaran,” harap mahasiswi prodi Sejarah asal Ketapang tersebut.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *