Empat Tahun Radio Komunitas Tampun Juah Pererat Hubungan Budaya dan Mengabarkan Informasi

438 Views

Segumon, Sekayam,  KR

Mudip bebasa tuah betimpa, 

Mudip beradat kenasih tempa…. Betuah beruntung

Rina’ Bopulua Tompo’ Linua, 

Rina’ Bupoyo Tompo’ Roto…. Surua Tompo’

Gayu Guru Gerai Nyamai Lantang Senang Nguan Menua…. Kuuur Semangat.

Sapaan adat dan budaya khas Subsuku Dayak Sisang, Bi Somu dan Iban Sebaruk di atas wajib diucapkan sebagai pengantar dan penutup ketika para penyiar Radio Komunitas “mengudara”. “Kami wajib menyapa pendengar setia kami dengan sapaan adat dan budaya Sisang, Bi Somu dan Iban Sebaruk untuk mengingatkan para pendengar tentang pentingnya menghargai adat dan budaya sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi,” tutur Dodi, pemuda Bi Somu yang aktif “mengudara” saat giliran dia bertugas. Dodi memang bergantian tugas siaran dengan penyiar berbahasa Sisang dan Iban Sebaruk. 

Masyarakat Adat Komunitas Tampun Juah, khususnya warga yang berdomisili di wilayah Kecamatan Sekayam, Noyan, warga Kampung Mujat, Bunan dan Mongkos di perbatasan RI-Sarawak, Malaysia layak bersyukur karena telah memperoleh pelayanan informasi, berita kebudayaan, dan hiburan lagu-lagu daerah dari Rakom Tampun Juah selama 4 tahun ini.

Rakom berfrekwensi 101,3 FM itu memiliki program acara siar dalam Bahasa Indonesia dan 3 (tiga) bahasa daerah. Kehadiran Rakom ini setidaknya telah menyediakan berbagai informasi dan memberikan hiburan tersendiri bagi warga di perbatasan. 

Sejak dibuka resmi oleh Paolus Hadi, Bupati Sanggau, 4 tahun silam, tepatnya tanggal 1 Agustus 2016, Rakom Tampun Tampun Juah terus aktif menjadi satu-satunya media komunitas yang menyuarakan kebudayaan dan informasi bermanfaat lainnya bagi Komunitas Dayak Sisang, Bi Somu (rumpun Bidayuhik), dan Iban Sebaruk (rumpun Ibanik), dan warga lainnya di perbatasan. 

Rakom Tampun Juah berusaha tampil sebagai media pemersatu dan dengan programnya aktif menjalin komunikasi budaya Masyarakat Adat Komunitas Tampun Juah, terutama mereka yang mengakses siaran Rakom di sepanjang perbatasan RI-Sarawak, Malaysia. 

Pak Burhan, selaku Kepala Stasiun Rakom Tampun Juah, ketika ditanya penulis mengatakan senang karena sudah 4 (empat) tahun Rakom ini mampu bertahan dan terus mengudara memberikan pelayanan informasi dan hiburan kepada masyarakat di 3 (tiga) Ketemenggungan, yakni Sisang, Bi Somu dan Iban Sebaruk. “Saya harap agar Rakom Tampun Juah selalu lancar mengudara dan kepada warga pendengar setia dari mana pun berada, agar tetap memberikan dukungan kepada Rakom ini. Kita tentu saja berharap agar Rakom ini terus mengudara dan menyuarakan suara-suara masyarakat adat,” ujar Pak Burhan.

Rakom Tampun Juah juga mendapat respon yang positif dari warga perbatasan. Beberapa warga pendengar setia yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan warga Sisang, Kampung Segumon, Desa Lubuk Sabuk datang berkunjung ke Rakom Tampun Juah. Mereka berbincang-bincang dalam suasana kekeluargaan dengan penyiar sebelum siaran dimulai. 

Berharap Terus Mengudara  

Ibu Yuliana, pendengar setia dari Sungai Sepan (Foto: DokID)

Petrus Kenedi yang mewakili pengurus dan manajemen Laja Lolang Basua’, organisasi lokal yang memayungi keberadaan Rakom Tampun Juah berharap agar Masayarakat Adat tetap setia mendengarkan Rakom Tampun Juah. Ia juga mengharapkan pihak terkait, seperti Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan, dan Pemerintah Kabupaten Sanggau, khususnya dari instansi terkait untuk terus mendukung keberadaan Rakom Tampun Juah. Dia juga mengharapkan agar anak-anak muda Komunitas Tampun Juah agar semakin semangat lagi dalam mengikuti kegiatan di Rakom Tampung Juah. “Saya harap agar anak-anak muda terus memberikan dukungannya kepada radio ini sehingga radio ini bisa terus menyuarakan suara Masyarakat Adat di perbatasan, khususnya tentang adat dan budaya Masyarakat Adat dari 3 Ketemenggungan dan masyarakat lokal lainnya,” ujarnya penuh harap.

Sedangkan, Dodi, penyiar berbahasa Bi Somu berharap agar rekan-rekan penyiar yang lain tetap semangat meskipun kadangkala merasa bosan. “Rekan-rekan penyiar yang lain kadangkala bosanan sehingga kadangkala tidak siaran. Inilah tantangan kami sehingga saya seringkali harus menggantikan tugas rekan lainnya. Keterbatasan petugas yang siaran dan kerusakan pada alat-alat teknis penyiaran juga menjadi tantangan bagi radio kebanggaan warga di perbatasaan ini,” imbuhnya. Ibu Yuliana, warga Sungai Sepan, Desa Malenggang, pendengar setiap Rakom Tampun Juah saat ditanya penulis mengatakan bahwa radio ini kadangkala tidak siaran, ternyata karena ada alat-alatnya yang rusak. Dia berharap agar ada penyiar dari perempuan. “Kadangkala tidak siaran karena alatnya ada yang rusak. Begitu kabarnya. Saya berharap supaya ke depannya perlu diadakan penyiar dari kalangan perempuan,” ujarnya

Penulis: Nani Weni.

Foto: Dodi.

Editor: R.Giring.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *