KR ONLINE TERBARU

30/10/2009
Jubata Bera, Masyarakat Pedalaman Akan Merana
29/10/2009
PT BNM (Sinar Mas Grup) Rampas Hidup Masyarakat Silat Hulu
01/09/2009
Komnas HAM: Hentikan Aktivitas PT Ledo Lestari
11/06/2009
Dua Belas Tuntutan Aktivis Lingkungan Kalimantan Barat
20/02/2009
Mereka Meminta: Stop Perkebunan Sawit
14/11/2008
Masyarakat Adat Dayak Kabupaten Sintang Menggugat

DAFTAR ARTIKEL

Tahun 2007
Tahun 2008
Tahun 2009
Jumlah tersedia: 40 artikel

« Kembali

:: KR ONLINE | JUMAT, 11 MEI 2007
Menapaki Titian Panjang, Mendayung di Antara Karang: Refleksi 4 Tahun Credit Union Betang Asi


Tidaklah berlebihan kalau dikatakan, sejak Nabi Elia menerima roti dari Tuhan tatkala ia kelaparan, di tanah Kalimantan terjadi hal serupa, Tuhan memberikan sebuah barang bernama “Credit Union” kepada sekelompok orang di bumi Kalimantan. Pemberian ini bukan tanpa makna, tanpa pesan. Ini adalah pemberian yang direncanakan. Juga bukan pemberian cuma-cuma. Tetapi sebuah pemberian yang disertai sebuah mandat mulia, misi suci yang agung. Sebuah Manna Surgawi yang diberikan kepada sekelompok manusia setelah mengalami pergumulan panjang melewati jalan panjang penindasan, penghisapan, pembodohan dari rezim ke rezim di sebuah negeri bernama Indonesia.

Pengejawantahan dari pemberian ini hadir dalam sebuah aktivitas pengembangan ekonomi rakyat dalam wadah Credit Union, yang dimotori oleh Gerakan Pancur Kasih di Kalimantan Barat. Sebuah fenomena ajaib, hingga kini hampir di setiap sudut dari kota sampai ke desa rakyat berbicara soal Credit Union.

Kehadiran Credit Union mengalami relevansinya justru ketika diperhadapkan dengan realitas yang sesungguhnya. Realitas itu adalah pemiskinan, pembodohan dan marginalisasi, terutama komunitas masyarakat adat yang masih hidup di kampung-kampung dan di daerah perbukitan. Tidak ada pretensi untuk memonumenkan dan menempatkan bangsa Dayak dalam posisi spesial dalam konteks ini, tetapi diakui atau tidak bangsa Dayaklah yang menjadi korban paling ganas dari gempuran kekuatan kapitalistik borjuis dewasa ini.

Saya kira adalah pendapat yang bodoh, picik dan irasional jika sampai hari ini masih ada yang mengatakan bahwa hiruk-pikuk pedalaman pedesaan, adalah hiruk-pikuk yang jauh dari modernitas dan hibriditas. Jauh dari keangkuhan dan kepicikan para spekulan dan hamba sahaya kapitalisme. Jauh dari ambisi penaklukan, pembangunanisme dan hegemoni saudara sebangsa. Setuju atau tidak setuju, sebagaimana Indigenious People lainnya di dunia, bangsa Dayak di pedalaman dan pedesaanlah yang justru berada di deretan paling depan menjadi korban hantaman kekuatan kapitalisme, militerisme dan hedonisme. Antek-antek kapitalisme yang hadir dalam bentuk perkebunan berskala besar, HPH, dan pertambangan ini laksana pembunuh berdarah dingin yang berusaha mencabut dan menggerus dan menghancurkan apa saja yang ada dalam komunitas Dayak, baik sistem sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Tak pelak inilah genocide yang sesungguhnya. Pembunuhan secara perlahan-lahan atas satu komunitas yang dimulai dari peminggiran, penaklukan hingga nantinya mungkin pengkhianatan berakhir pembunuhan, laksana Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung demi ambisi dan keserakahan yang tidak bisa dibendung.

Rehumanisasi Manusia Dayak

Berpangku tangan saja atau berlindung dibalik teori tentang peradaban dan retorika-retorika memuakkan dari kampus-kampus atau meja seminar di hotel berbintang tidaklah bisa mengubah apa pun yang dialami oleh bangsa Dayak. Oleh karena itu perlu sebuah kesadaran kritis masyarakat untuk membebaskan diri penindasan dan penghisapan tersebut. Berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan bermartabat secara budaya sudah menjadi cita-cita luhur perjuangan bangsa Dayak lewat gerakan Credit Union.

Cita-cita ini juga yang saya kira menjadi roh gerakan Pancur Kasih selama ini, tak terkecuali bagi semua jaringannya di manapun termasuk di Kalimantan Tengah.

Hadirnya Credit Union secara khusus di Kalteng bagaikan tetes hujan di musim kemarau. Ia (baca: Credit Union) seperti janji Tuhan yang membawa umat Israel keluar dari belenggu penindasan. Melewati para aktivis dan penggiatnya Credit Union telah menggugah kesadaran banyak orang. Bagi para pejuang masyarakat, Credit Union seperti memiliki magnet yang memiliki daya tarik yang luar biasa. Di tengah kemandulan teori-teori ekonomi yang berpihak kepada masyarakat kecil Credit Union justru memberikan jawaban terhadap kemandulan tersebut. Pun di tengah kegagalan para agamawan dalam berteologi, Credit Union justru menjadi aliran teologi baru. Di sana ada nilai-nilai pembebasan yang memberikan alternatif bahwa Kerajaan Tuhan itu riil ada kini dan di sini. Ia tidak perlu dicari di gedung-gedung yang megah, bangunan ibadah yang mewah.

Surga adalah sebuah perjuangan dan bukan pemberian. Ketika konteks itu sebuah perjuangan, maka senantiasa ada pilihan. Diam atau beraksi, berlari ataukah berjalan, menang atau kalah, bahkan dalam konteks ekonomi, miskin atau kaya. Kalau saja kemenangan, kedaulatan, dan kemandirian itu adalah sebuah hasil dari perjuangan tersebut, maka tidak bisa tidak semua itu mesti direbut, mesti mungkin darah berceceran dan nyawa melayang karenanya.

CU Betang Asi: Dia Antara Dua Karang

Dalam konteks ini juga pada tempatnya saya mengucapkan, selamat kepada CU Betang Asi yang memasuki usia 4 tahun 25 Maret yang lalu. Selamat juga kepada Segerak dan Pancur Kasih yang telah menanam pohon kehidupan di tanah Dayak Kalimantan Tengah. Empat tahun berjalan bersama Betang Asi saya seperti menemukan tambatan terakhir dari sebuah pengembaraan spiritual. Di sini saya menyaksikan dua hal amat sangat sulit untuk dipisahkan, yakni keberhasilan dan kegagalan. Keberhasilan ini terlihat dari munculnya kesadaran ke arah gerakan sosial baru, baik dari masyarakat maupun orientasi perjuangan para pionir pejuang yang menamakan dirinya NGO. Keberhasilan ini menyangkut banyak aspek tentunya, kalau kita mau mengaitkan dengan kehadiran Credit Union. Pun, saya juga harus jujur, bahwa hadirnya Credit Union menjelaskan sebuah fenomena, yaitu kegagalan disiplin ilmu eksakta, pandangan dan keyakinan mainstream yang tidak bisa membumikan teori dengan realitas. Ini seakan menegaskan bahwa, disiplin ilmu ekonomi kontemporer telah gagal dan justru kehilangan wibawa ketika berhadapan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Credit Union. Dalam konteks Indonesia, keberhasilan Hatta telah dipecundangi oleh kegagalan para penerusnya dalam memahami apa yang dimaksud dengan ekonomi kerakyatan. Betapa tidak disiplin ilmu ekonomi telah dirasuki sesat pikir, bahwa yang diwariskan bukanlah ekonomi kerakyatan, tetap ekonomi keberpihakan. Keberpihakan pada kapitalis borjuistik. Hal ini amat nyata kelihatan ketika pemerintah mendefinisikan bahwa yang namanya investor selalu mereka yang punya modal besar, sehingga harus diundang dan dicari-cari bahkan dari luar negeri, sekalipun yang diundang sejatinya kebanyakan justru sebagai penghancur dan penindas bagi masyarakat.

Akhir kata, usia 4 tahun bagi CU Besi memang relatif laksana bayi yang baru berjalan dan merangkak. Masih perlu disusui oleh induknya. Tapi sebagai sebuah lembaga, usia 4 tahun adalah sebuah prestasi, meski prestasi itu tidak lepas dari campur tangan sang arsitek, kalau mau disamakan dengan bangunan. Jalan masih panjang, harapan masih membentang, sementara amunisi masih harus disediakan. CU Besi di usia keempat seperti berada di empat persimpangan pula. Antara mimpi menghadirkan CU sebagai sebuah gerakan sosial baru dan sebagai instrumen pencerdasan bagi kaum tertindas dan termarjinal versus ambisi pencapaian aset dan target yang cenderung mengabaikan kemampuan dan keadaan kaum tertindas; antara melaju dalam kemandirian, keunikan dan kekhasan Kalimantan Tengah versus terkurung dalam bayang-bayang keberhasilan dan gemerlapan Kalimantan Barat. Tetapi kalau saya boleh menawarkan, bahwa persimpangan boleh ada, tetapi yang jangan sampai terjadi bahwa CU Betang Asi tidak tersesat di antara persimpangan-persimpangan tersebut. Bravo Credit Union.

Elisae Sumandie, anggota CU Betang Asi, Dewan Aliansi Masyarakat Adat, Kalimantan Tengah