|
«
Kembali
::
KR ONLINE | JUMAT,
11 MEI 2007
Menapaki Titian Panjang, Mendayung di Antara Karang:
Refleksi 4 Tahun Credit Union Betang Asi
Tidaklah berlebihan kalau dikatakan, sejak Nabi Elia menerima roti dari
Tuhan tatkala ia kelaparan, di tanah Kalimantan terjadi hal serupa, Tuhan
memberikan sebuah barang bernama “Credit Union” kepada sekelompok orang di
bumi Kalimantan. Pemberian ini bukan tanpa makna, tanpa pesan. Ini adalah
pemberian yang direncanakan. Juga bukan pemberian cuma-cuma. Tetapi sebuah
pemberian yang disertai sebuah mandat mulia, misi suci yang agung. Sebuah
Manna Surgawi yang diberikan kepada sekelompok manusia setelah mengalami
pergumulan panjang melewati jalan panjang penindasan, penghisapan,
pembodohan dari rezim ke rezim di sebuah negeri bernama Indonesia.
Pengejawantahan dari pemberian ini hadir dalam sebuah aktivitas pengembangan
ekonomi rakyat dalam wadah Credit Union, yang dimotori oleh Gerakan Pancur
Kasih di Kalimantan Barat. Sebuah fenomena ajaib, hingga kini hampir di
setiap sudut dari kota sampai ke desa rakyat berbicara soal Credit Union.
Kehadiran Credit Union mengalami relevansinya justru ketika diperhadapkan
dengan realitas yang sesungguhnya. Realitas itu adalah pemiskinan,
pembodohan dan marginalisasi, terutama komunitas masyarakat adat yang masih
hidup di kampung-kampung dan di daerah perbukitan. Tidak ada pretensi untuk
memonumenkan dan menempatkan bangsa Dayak dalam posisi spesial dalam konteks
ini, tetapi diakui atau tidak bangsa Dayaklah yang menjadi korban paling
ganas dari gempuran kekuatan kapitalistik borjuis dewasa ini.
Saya kira adalah pendapat yang bodoh, picik dan irasional jika sampai hari
ini masih ada yang mengatakan bahwa hiruk-pikuk pedalaman pedesaan, adalah
hiruk-pikuk yang jauh dari modernitas dan hibriditas. Jauh dari keangkuhan
dan kepicikan para spekulan dan hamba sahaya kapitalisme. Jauh dari ambisi
penaklukan, pembangunanisme dan hegemoni saudara sebangsa. Setuju atau tidak
setuju, sebagaimana Indigenious People lainnya di dunia, bangsa Dayak di
pedalaman dan pedesaanlah yang justru berada di deretan paling depan menjadi
korban hantaman kekuatan kapitalisme, militerisme dan hedonisme. Antek-antek
kapitalisme yang hadir dalam bentuk perkebunan berskala besar, HPH, dan
pertambangan ini laksana pembunuh berdarah dingin yang berusaha mencabut dan
menggerus dan menghancurkan apa saja yang ada dalam komunitas Dayak, baik
sistem sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Tak pelak inilah genocide yang
sesungguhnya. Pembunuhan secara perlahan-lahan atas satu komunitas yang
dimulai dari peminggiran, penaklukan hingga nantinya mungkin pengkhianatan
berakhir pembunuhan, laksana Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung demi
ambisi dan keserakahan yang tidak bisa dibendung.
Rehumanisasi Manusia
Dayak
Berpangku tangan saja atau berlindung dibalik teori tentang peradaban dan
retorika-retorika memuakkan dari kampus-kampus atau meja seminar di hotel
berbintang tidaklah bisa mengubah apa pun yang dialami oleh bangsa Dayak.
Oleh karena itu perlu sebuah kesadaran kritis masyarakat untuk membebaskan
diri penindasan dan penghisapan tersebut. Berdaulat secara politik, mandiri
secara ekonomi dan bermartabat secara budaya sudah menjadi cita-cita luhur
perjuangan bangsa Dayak lewat gerakan Credit Union.
Cita-cita ini juga yang saya kira menjadi roh gerakan Pancur Kasih selama
ini, tak terkecuali bagi semua jaringannya di manapun termasuk di Kalimantan
Tengah.
Hadirnya Credit Union secara khusus di Kalteng bagaikan tetes hujan di musim
kemarau. Ia (baca: Credit Union) seperti janji Tuhan yang membawa umat
Israel keluar dari belenggu penindasan. Melewati para aktivis dan
penggiatnya Credit Union telah menggugah kesadaran banyak orang. Bagi para
pejuang masyarakat, Credit Union seperti memiliki magnet yang memiliki daya
tarik yang luar biasa. Di tengah kemandulan teori-teori ekonomi yang
berpihak kepada masyarakat kecil Credit Union justru memberikan jawaban
terhadap kemandulan tersebut. Pun di tengah kegagalan para agamawan dalam
berteologi, Credit Union justru menjadi aliran teologi baru. Di sana ada
nilai-nilai pembebasan yang memberikan alternatif bahwa Kerajaan Tuhan itu
riil ada kini dan di sini. Ia tidak perlu dicari di gedung-gedung yang megah,
bangunan ibadah yang mewah.
Surga adalah sebuah perjuangan dan bukan pemberian. Ketika konteks itu
sebuah perjuangan, maka senantiasa ada pilihan. Diam atau beraksi, berlari
ataukah berjalan, menang atau kalah, bahkan dalam konteks ekonomi, miskin
atau kaya. Kalau saja kemenangan, kedaulatan, dan kemandirian itu adalah
sebuah hasil dari perjuangan tersebut, maka tidak bisa tidak semua itu mesti
direbut, mesti mungkin darah berceceran dan nyawa melayang karenanya.
CU Betang Asi: Dia
Antara Dua Karang
Dalam konteks ini juga pada tempatnya saya mengucapkan, selamat kepada CU
Betang Asi yang memasuki usia 4 tahun 25 Maret yang lalu. Selamat juga
kepada Segerak dan Pancur Kasih yang telah menanam pohon kehidupan di tanah
Dayak Kalimantan Tengah. Empat tahun berjalan bersama Betang Asi saya
seperti menemukan tambatan terakhir dari sebuah pengembaraan spiritual. Di
sini saya menyaksikan dua hal amat sangat sulit untuk dipisahkan, yakni
keberhasilan dan kegagalan. Keberhasilan ini terlihat dari munculnya
kesadaran ke arah gerakan sosial baru, baik dari masyarakat maupun orientasi
perjuangan para pionir pejuang yang menamakan dirinya NGO. Keberhasilan ini
menyangkut banyak aspek tentunya, kalau kita mau mengaitkan dengan kehadiran
Credit Union. Pun, saya juga harus jujur, bahwa hadirnya Credit Union
menjelaskan sebuah fenomena, yaitu kegagalan disiplin ilmu eksakta,
pandangan dan keyakinan mainstream yang tidak bisa membumikan teori dengan
realitas. Ini seakan menegaskan bahwa, disiplin ilmu ekonomi kontemporer
telah gagal dan justru kehilangan wibawa ketika berhadapan dengan
nilai-nilai dan prinsip-prinsip Credit Union. Dalam konteks Indonesia,
keberhasilan Hatta telah dipecundangi oleh kegagalan para penerusnya dalam
memahami apa yang dimaksud dengan ekonomi kerakyatan. Betapa tidak disiplin
ilmu ekonomi telah dirasuki sesat pikir, bahwa yang diwariskan bukanlah
ekonomi kerakyatan, tetap ekonomi keberpihakan. Keberpihakan pada kapitalis
borjuistik. Hal ini amat nyata kelihatan ketika pemerintah mendefinisikan
bahwa yang namanya investor selalu mereka yang punya modal besar, sehingga
harus diundang dan dicari-cari bahkan dari luar negeri, sekalipun yang
diundang sejatinya kebanyakan justru sebagai penghancur dan penindas bagi
masyarakat.
Akhir kata, usia 4 tahun bagi CU Besi memang relatif laksana bayi yang baru
berjalan dan merangkak. Masih perlu disusui oleh induknya. Tapi sebagai
sebuah lembaga, usia 4 tahun adalah sebuah prestasi, meski prestasi itu
tidak lepas dari campur tangan sang arsitek, kalau mau disamakan dengan
bangunan. Jalan masih panjang, harapan masih membentang, sementara amunisi
masih harus disediakan. CU Besi di usia keempat seperti berada di empat
persimpangan pula. Antara mimpi menghadirkan CU sebagai sebuah gerakan
sosial baru dan sebagai instrumen pencerdasan bagi kaum tertindas dan
termarjinal versus ambisi pencapaian aset dan target yang cenderung
mengabaikan kemampuan dan keadaan kaum tertindas; antara melaju dalam
kemandirian, keunikan dan kekhasan Kalimantan Tengah versus terkurung dalam
bayang-bayang keberhasilan dan gemerlapan Kalimantan Barat. Tetapi kalau
saya boleh menawarkan, bahwa persimpangan boleh ada, tetapi yang jangan
sampai terjadi bahwa CU Betang Asi tidak tersesat di antara
persimpangan-persimpangan tersebut. Bravo Credit Union.
Elisae Sumandie, anggota CU Betang Asi, Dewan Aliansi Masyarakat Adat,
Kalimantan Tengah |
|